PresGoNews.com, Jakarta – Kemunculan hamparan sampah yang menyerupai pulau di kawasan pesisir Muara Angke, Jakarta Utara, belakangan menjadi perhatian publik. Fenomena yang viral di media sosial pada awal Juni 2026 itu memperlihatkan tumpukan sampah mengambang yang menutupi sebagian area perairan di dekat hutan mangrove.
Dari udara, tumpukan tersebut bahkan terlihat seperti daratan baru yang muncul di tengah laut. Meski terlihat unik, kondisi ini justru menjadi tanda adanya persoalan serius dalam pengelolaan sampah dan kualitas lingkungan di kawasan pesisir Jakarta.
Baca juga: Bantargebang Hanya Terima Sampah Residu Mulai 1 Agustus 2026, Ini Alasan dan Dampaknya
Menurut Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, fenomena ini bukan terjadi karena munculnya pulau baru, melainkan akibat akumulasi sampah yang terbawa dari wilayah hulu melalui aliran sungai menuju Teluk Jakarta. Saat sampah mencapai kawasan Muara Angke yang memiliki tingkat sedimentasi cukup tinggi, material tersebut tertahan dan terus menumpuk hingga membentuk hamparan yang luas.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menjelaskan bahwa kondisi tersebut berkaitan erat dengan proses sedimentasi yang terjadi di wilayah pesisir.
“Di Muara Angke yang kemudian terjadi pulau sampah karena sedimentasi,” ujar Pramono pada Kamis (5/6).
Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan sampah di Jakarta tidak bisa dilihat hanya dari kondisi di hilir. Sampah yang dibuang sembarangan di berbagai daerah yang dilalui aliran sungai pada akhirnya akan bermuara ke laut. Karena itu, meski penumpukan terjadi di Muara Angke, sumber masalahnya berasal dari banyak wilayah yang berada di bagian hulu daerah aliran sungai.

Hal tersebut juga disampaikan oleh Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Sekretariat Daerah DKI Jakarta, Afan Adriansyah Idris. Ia menegaskan bahwa tantangan terbesar dalam penanganan sampah pesisir adalah aliran sampah yang terus datang setiap hari.
“Tantangan terbesarnya yang pasti adalah sampah yang selalu hadir, selalu datang dari arah hulu,” ujar Afan pada Jumat (6/6).
Sebagai langkah penanganan, Pemprov DKI Jakarta bersama Dinas Lingkungan Hidup langsung melakukan operasi pembersihan di lokasi. Sejak Senin (2/6) hingga Kamis (5/6), sekitar 100 petugas diterjunkan dengan dukungan ekskavator amfibi dan kapal pengangkut sampah. Dalam beberapa hari, sebanyak 8,8 ton sampah berhasil diangkat dari kawasan Muara Angke dan Muara Kali Adem.
Baca juga: Tragedi Longsor Bantar Gebang 8 Maret 2026 Menjadi Alarm Serius Pengelolaan Sampah Kota
Namun, pembersihan saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah. Pemerintah juga memperkuat upaya pencegahan dengan mengoptimalkan pemasangan sekat dan penyaring sampah di sejumlah sungai yang bermuara ke Teluk Jakarta.
Selain itu, inspeksi rutin di kawasan pesisir akan terus dilakukan untuk memantau potensi penumpukan sampah baru. Langkah ini menjadi penting agar fenomena “pulau sampah” tidak kembali terulang dan ekosistem pesisir Jakarta tetap terjaga di tengah tekanan pencemaran yang semakin besar.