PresGoNews.com, Jakarta – Kasus banyaknya WNI yang terjebak sindikat penipuan online di Kamboja masih jadi perhatian serius pemerintah Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah korbannya terus naik dan mayoritas berawal dari tawaran kerja bergaji besar yang tersebar di media sosial. Banyak orang awalnya mengira mereka akan bekerja sebagai admin perusahaan, customer service, atau operator digital. Namun kenyataannya, mereka justru dipaksa menjadi pelaku online scam.
Baca juga: Waspada Spyware Morpheus Serang Handphone, Diam-diam Bajak WhatsApp Kamu
Fenomena ini makin ramai dibicarakan karena jumlah kasusnya melonjak cukup drastis. KBRI Phnom Penh mencatat ribuan WNI bermasalah di Kamboja sepanjang 2024, dan sebagian besar berkaitan dengan praktik penipuan online. Situasi ini bikin publik makin sadar kalau tawaran kerja luar negeri dengan iming-iming gaji fantastis ternyata bisa jadi jebakan serius.
Modus yang dipakai sindikat juga terbilang rapi dan meyakinkan. Para korban biasanya dihubungi lewat Facebook, Telegram, atau grup lowongan kerja. Mereka dijanjikan gaji belasan juta rupiah, tempat tinggal nyaman, sampai biaya keberangkatan gratis. Karena prosesnya terlihat mudah dan cepat, banyak orang akhirnya tergiur tanpa mengecek legalitas perusahaan perekrut.
Masalah mulai muncul saat para korban tiba di Kamboja. Paspor mereka disita dan aktivitas kerja diawasi ketat. Mereka diminta mencari target penipuan lewat aplikasi percakapan dan media sosial. Kalau target tidak tercapai, beberapa korban mengaku mendapat tekanan hingga ancaman dari pihak perusahaan.

Pemerintah Indonesia sendiri mengaku terus menangani kasus ini bersama otoritas Kamboja. Direktur Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI, Judha Nugraha, mengatakan mayoritas kasus WNI di Kamboja memang berkaitan dengan online scam dan dugaan tindak pidana perdagangan orang atau TPPO.
“Mayoritas kasus yang kami tangani di Kamboja berkaitan dengan penipuan online dan indikasi tindak pidana perdagangan orang,” ujar Judha Nugraha pada, Selasa (29/4).
Baca juga: Wacana Larangan Vape di Indonesia Makin Serius, Pemerintah Perketat Regulasi di 2026
Kasus ini juga menunjukkan kalau sindikat penipuan online sekarang makin terorganisir dan menyasar banyak negara di Asia Tenggara. Bahkan dalam beberapa operasi penyelamatan, ratusan WNI berhasil dipulangkan setelah ditemukan bekerja di perusahaan scam di wilayah Poipet dan Sihanoukville.
Pemerintah pun terus mengingatkan masyarakat supaya lebih hati-hati dengan tawaran kerja luar negeri yang terlalu muluk. Apalagi kalau proses perekrutannya cepat, tidak jelas perusahaan resminya, dan hanya mengandalkan komunikasi lewat media sosial. Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, tawaran gaji besar memang terlihat menggiurkan. Tapi kalau tidak teliti, mimpi kerja di luar negeri justru bisa berubah jadi jebakan berbahaya.