Utang Luar Negeri RI Tembus Rp7.488 Triliun per Februari 2026, Masih Aman?

Utang Luar Negeri Indonesia Capai US$ 437,9 Miliar per Februari 2026 | Foto: detik.com

PresGoNews.com, Jakarta – Utang luar negeri (ULN) Indonesia kembali naik di awal tahun 2026. Berdasarkan data terbaru dari Bank Indonesia, total utang Indonesia per Februari 2026 mencapai US$437,9 miliar atau sekitar Rp7.488 triliun. Angka ini naik dibandingkan Januari 2026 yang berada di posisi US$434,9 miliar.

Baca juga: Indonesia Tak Masuk Daftar Negara Paling Sopan, Citra Ramah Kita Dipertanyakan Dunia

Kalau dilihat sekilas, angka ini memang bikin kaget. Tapi kalau ditarik lebih dalam, kenaikannya sebenarnya masih tergolong moderat. Secara tahunan, ULN Indonesia tumbuh sekitar 2,5 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang ada di level 1,7 persen. Artinya, kenaikan ini masih dalam jalur yang relatif terkendali, bukan lonjakan drastis.

Menurut Bank Indonesia, peningkatan utang ini banyak dipengaruhi oleh sektor publik, termasuk pemerintah dan bank sentral. Selain itu, derasnya aliran modal asing ke instrumen keuangan domestik juga ikut mendorong naiknya angka utang.

“Perkembangan ULN Februari 2026 tersebut terutama dipengaruhi oleh peningkatan posisi ULN sektor publik sejalan dengan tetap terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia,” ujar Bank Indonesia dalam keterangan resminya, Jumat (17/4).

Ekonomi Stabil

Sektor publik jadi pendorong utama kenaikan utang

Di sisi lain, utang pemerintah tercatat sebesar US$215,9 miliar dan mengalami pertumbuhan cukup signifikan secara tahunan. Dana ini umumnya dialokasikan untuk sektor-sektor penting seperti kesehatan, pendidikan, perlindungan sosial, hingga pembangunan infrastruktur. Sementara itu, utang luar negeri dari sektor swasta justru sedikit menurun menjadi US$193,7 miliar.

Yang menarik, struktur utang Indonesia saat ini masih didominasi oleh utang jangka panjang, dengan porsi mencapai sekitar 84,9 persen. Ini jadi kabar cukup positif karena risiko tekanan pembayaran dalam waktu dekat jadi lebih kecil.

Baca juga: Indonesia dan AS Resmi Bangun Kemitraan Pertahanan Baru di Tengah Ketegangan Global

Selain itu, rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga masih berada di angka 29,8 persen. Angka ini masih tergolong aman dan sering dijadikan indikator bahwa kondisi utang Indonesia masih cukup sehat dibandingkan banyak negara lain.

“Struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya,” lanjut pernyataan resmi Bank Indonesia, Jumat (17/4).

Dengan kondisi ini, pemerintah dan Bank Indonesia memastikan akan terus menjaga koordinasi agar pengelolaan utang tetap optimal. Fokusnya jelas, utang harus tetap produktif dan benar-benar dipakai untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, bukan jadi beban di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga