Anak Sulit Lepas dari Gadget, Tantangan Parenting di Era Digital dan Cara Mengurangi Screen Time Anak

PresGoNews.com – Anak yang sulit lepas dari layar sering dianggap kurang disiplin. Padahal, cara mengurangi screen time anak tidak cukup hanya dengan membatasi penggunaan gadget. Ada tantangan yang lebih besar, yaitu lingkungan digital yang dirancang untuk menarik perhatian penggunanya selama mungkin.

Sejarah tujuh dekade terakhir menunjukkan bahwa persoalan ini bukan sekadar tentang kemauan anak. Ada faktor psikologis, teknologi, dan kebiasaan sehari-hari yang ikut memengaruhi cara anak berinteraksi dengan layar.

Baca juga: Anak Pintar Bukan Cuma soal Nilai: 5 Prinsip Parenting untuk Menyiapkan Masa Depan Anak

Pada 1954, dua peneliti di Kanada, James Olds dan Peter Milner, menanamkan elektroda kecil di otak tikus. Setiap kali tikus menekan tuas, bagian otak yang berkaitan dengan dorongan ikut terangsang. Tikus itu terus menekan tuas berulang kali, bahkan sampai lupa makan.

Dari penelitian tersebut, para ilmuwan kemudian memahami peran dopamin. Zat ini berkaitan erat dengan dorongan untuk mengulangi suatu perilaku, bukan sekadar rasa bahagia yang muncul ketika kita melakukan sesuatu.

Lalu, pada 1971, ekonom Herbert Simon menyampaikan sebuah peringatan sederhana. Banjir informasi akan menciptakan kelangkaan perhatian. Artinya, ketika informasi semakin melimpah, perhatian manusia justru menjadi sesuatu yang semakin diperebutkan.

Ramalan itu perlahan menjadi kenyataan. Pada 2006, fitur infinite scroll diperkenalkan dan membuat layar seolah tidak pernah memiliki halaman terakhir. Setahun kemudian, ponsel pintar mulai masuk ke saku masyarakat. Pada 2017, Sean Parker, presiden pertama Facebook, mengakui bahwa platform tersebut dirancang untuk menghabiskan sebanyak mungkin waktu dan perhatian penggunanya.

Ayah Bunda mungkin pernah menonton film dokumenter The Social Dilemma di Netflix. Film ini turut menjelaskan bagaimana platform digital dirancang untuk menarik perhatian penggunanya.

Anak menghadapi tantangan digital yang tidak sederhana

Saat ini, anak-anak Indonesia menghabiskan rata-rata 5,4 jam sehari di internet. Waktu tersebut hampir setara dengan seperempat hari mereka. Sementara itu, hanya sekitar 37,5 persen anak yang pernah mendapatkan bimbingan tentang cara menggunakan internet secara aman dan bermanfaat.

Sisanya masih berhadapan dengan berbagai kebiasaan digital yang kurang sehat, termasuk doomscrolling di media sosial, terutama TikTok.

Coba bayangkan seorang anak berusia delapan tahun harus berhadapan dengan tim insinyur, pakar data, dan perusahaan teknologi bermodal besar seperti Facebook, TikTok, serta YouTube. Semua pihak tersebut memiliki kemampuan untuk merancang pengalaman digital yang membuat penggunanya terus ingin melihat konten berikutnya.

Dalam situasi seperti ini, menyalahkan anak karena terus melakukan scrolling jelas tidak adil. Menyalahkan Ayah Bunda sepenuhnya juga rasanya kurang tepat.

Inilah pesan utama buku terlaris Dopamine Kids: A Science-Based Plan to Rewire Your Child’s Brain and Take Back Your Family in the Age of Screens and Ultraprocessed Foods karya jurnalis Michaeleen Doucleff.

Disiplin tetap menjadi bagian penting dalam pengasuhan. Namun, persoalannya lebih besar daripada itu. Kita hidup di lingkungan yang sengaja dirancang untuk menarik perhatian, termasuk perhatian anak-anak kita.

Hal serupa juga terjadi pada makanan ultra-proses. Makanan jenis ini sering kali praktis, mudah dikonsumsi, dan membuat kita ingin terus makan. Coba bayangkan nugget atau menu favorit Ayah Bunda dari restoran cepat saji terdekat.

Baik layar maupun makanan ultra-proses dapat memberikan rangsangan yang mendorong seseorang mengulangi perilaku tertentu. Karena itu, membangun kebiasaan sehat tidak cukup hanya dengan meminta anak berhenti atau melarang mereka melakukan sesuatu.

Cara mengurangi screen time anak dimulai dari rumah

Parenting

Ada satu lingkungan yang relatif bisa kita atur bersama, yaitu rumah sendiri. Dalam bukunya, Doucleff menawarkan tiga kebiasaan kolektif yang bisa diterapkan untuk membantu anak membangun hubungan yang lebih sehat dengan layar.

1. Kurangi pemicu penggunaan gadget

Ponsel di meja makan bisa menjadi pemicu untuk terus memeriksa notifikasi. Tablet di kamar tidur juga dapat menjadi godaan setiap malam. Karena itu, simpan perangkat di luar kamar tidur dan jauhkan dari meja makan.

Aturan ini sebaiknya berlaku untuk Ayah Bunda dan seluruh anggota keluarga di rumah. Bagaimanapun, anak belajar bukan hanya dari apa yang kita katakan, tetapi juga dari apa yang mereka lihat setiap hari.

2. Siapkan kegiatan pengganti yang menarik

Aturan tanpa kegiatan pengganti bisa membuat anak merasa kehilangan sesuatu. Karena itu, Ayah Bunda bisa menyiapkan aktivitas sebelum anak mulai rewel karena tidak bisa menggunakan layar atau gadget.

Pilihannya cukup beragam, mulai dari buku, bola, bahan kerajinan, hingga resep sederhana yang bisa dicoba bersama. Apa yang paling menarik bagi Ananda? Sesuaikan kegiatan dengan minat mereka.

Dorongan untuk terus melakukan sesuatu juga bisa diarahkan ke aktivitas yang memberikan rasa mampu dan pencapaian. Misalnya, menyelesaikan puzzle atau membuat camilan sendiri di rumah.

3. Jadikan rumah sebagai ruang hidup bersama

Rumah bukan hanya tempat untuk tidur dan beristirahat. Rumah juga menjadi ruang untuk bercakap-cakap, bergerak, menikmati makanan sehat, serta menumbuhkan rasa ingin tahu.

Ayah Bunda bisa memulainya dengan makan malam tanpa gawai, berjalan sore mengelilingi kompleks, atau memotong buah bersama untuk camilan. Sebelum tidur, coba ajukan satu pertanyaan sederhana kepada Ananda, seperti, “Tadi di sekolah, apa yang bikin kamu penasaran?”

Kegiatan ini mungkin terlihat sederhana. Namun, jika dilakukan secara rutin dan berulang, kebiasaan tersebut dapat membantu membangun pola interaksi baru dalam keluarga. Bahkan, kebiasaan ini bisa memberikan manfaat bagi Ayah Bunda sendiri.

Tidak perlu langsung mengubah semuanya sekaligus. Mulailah dari satu perubahan yang realistis dan bisa dipertahankan. Satu kebiasaan baik sudah cukup untuk menjadi langkah awal.

Meski demikian, keluarga tentu tidak bisa berjuang sendirian. Kita perlu memahami bahwa banyak Ayah Bunda di Indonesia harus bekerja hingga larut malam. Sebagian juga tinggal di rumah yang tidak terlalu luas dan tidak memiliki akses mudah ke taman atau ruang bermain di sekitarnya.

Dalam kondisi seperti ini, membangun kebiasaan digital yang sehat bukan sekadar persoalan kemauan orang tua. Ada lingkungan yang turut menentukan pilihan dan aktivitas anak sehari-hari.

Karena itu, peran negara dan pemerintah perlu hadir melalui penyediaan ruang publik yang aman, akses literasi digital yang memadai, serta pengawasan terhadap desain platform digital dan iklan makanan yang menyasar anak-anak.

Lingkungan yang mendukung akan memberikan keluarga lebih banyak pilihan untuk membangun kebiasaan sehat. Anak tidak hanya membutuhkan aturan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, tetapi juga kesempatan untuk menjalani aktivitas lain yang menarik dan bermanfaat.

Sekolah membantu anak mengelola perhatian

Selain keluarga, sekolah juga memiliki peran penting sebagai kepanjangan tangan Ayah Bunda dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Anak perlu belajar membagi perhatian, memahami cara kerja algoritma media sosial yang mereka gunakan, serta mengenali pentingnya tidur sebagai bagian dari keterampilan hidup. Tidur yang cukup juga mendukung fungsi otak, termasuk proses yang berkaitan dengan pengaturan perhatian dan perilaku.

Di Prestasi Global, kami ingin hari-hari Ananda di sekolah dipenuhi pengalaman nyata yang menumbuhkan fokus dan rasa ingin tahu. Anak perlu mendapatkan kesempatan untuk bergerak, bersosialisasi, berinteraksi langsung dengan orang lain, serta menyalurkan energinya melalui kegiatan yang sehat.

Baca juga: 3 Pelajaran Parenting dari The Book You Wish Your Parents Had Read yang Bisa Mengubah Cara Orang Tua Memahami Anak

Pengalaman seperti ini memberikan ruang bagi anak untuk belajar dan berkembang di luar dunia digital. Mereka dapat menemukan kesenangan melalui interaksi sosial, aktivitas fisik, dan berbagai pengalaman baru yang tidak hanya bergantung pada layar.

Tikus di laboratorium pada 1954 tidak memiliki pilihan. Namun, anak-anak kita memiliki kesempatan untuk mengenal pilihan-pilihan yang lebih baik.

Hal ini bergantung pada kesediaan orang dewasa di sekitar mereka untuk bersama-sama merancang ulang rumah dan lingkungan menjadi tempat yang menyediakan rangsangan lebih baik dan sehat.

Mengurangi waktu di depan layar bukan semata-mata tentang membatasi penggunaan gadget. Lebih dari itu, upaya ini berkaitan dengan bagaimana Ayah Bunda, sekolah, masyarakat, dan pemerintah menciptakan lingkungan yang membantu anak tumbuh dengan kebiasaan yang lebih sehat.

Satu perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi awal yang berarti. Yang terpenting, anak tidak harus menghadapi tantangan dunia digital sendirian. Mereka membutuhkan orang dewasa yang tidak hanya memberikan aturan, tetapi juga menghadirkan lingkungan dan pengalaman yang membuat kehidupan di luar layar terasa menarik.

A lifelong learner. Running, exploring, and iterating everyday. Write and documenting my journey to become more mindful and active in life.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga