PresGoNews.com – Bosan sering dianggap sebagai tanda anak malas. Padahal, riset selama dua dekade menunjukkan bahwa rasa bosan sebenarnya adalah sinyal yang perlu kita pahami.
Rabu sore. Ananda duduk di depan PR matematika. Baru lima menit mengerjakan, ia sudah mengeluh, “Bosan.” Sepuluh menit kemudian, ponsel pun ada di tangannya. PR masih belum tersentuh sampai waktu Magrib tiba.
Situasi seperti ini mungkin terasa familiar bagi Ayah Bunda. Reaksi pertama yang muncul sering kali adalah menganggap anak malas atau tidak punya semangat belajar. Namun, riset selama dua puluh tahun terakhir menunjukkan bahwa ada penjelasan lain yang lebih tepat untuk memahami rasa bosan.
Pada 2006, psikolog pendidikan Reinhard Pekrun memperkenalkan Control-Value Theory. Teori ini menjelaskan bahwa rasa bosan bisa muncul ketika siswa merasa tidak punya kendali atas tugas yang dikerjakan dan tidak melihat manfaat dari tugas tersebut. PR yang hanya berisi hafalan, tidak memberi pilihan, dan terasa tidak bermakna bisa menjadi pemicu kebosanan.
Baca juga: Screen Time Anak: Apa Kata Riset Terbaru 2026 tentang Dampaknya bagi Perkembangan Anak?
Kemudian, pada 2012, John Eastwood dan rekan-rekannya menggambarkan bosan sebagai kondisi ketika pikiran tidak benar-benar terlibat. Untuk keluar dari rasa bosan, seseorang perlu belajar mengarahkan perhatiannya sendiri dan menemukan makna dari aktivitas yang dilakukan. Kemampuan ini bukan sesuatu yang otomatis dikuasai anak, melainkan perlu dilatih secara bertahap.
Pada 2014, psikolog Inggris Sandi Mann melakukan penelitian dengan meminta peserta menyalin nomor dari buku telepon, sebuah aktivitas yang sengaja dibuat membosankan. Setelah menyelesaikan tugas tersebut, peserta ternyata mampu menghasilkan lebih banyak ide tentang kegunaan benda-benda sederhana. Temuan ini menunjukkan bahwa pikiran yang mengembara saat bosan ternyata bisa membantu menghubungkan berbagai gagasan dan memunculkan ide baru.
Selanjutnya, pada 2018, Erin Westgate dan Timothy Wilson menegaskan bahwa rasa bosan bekerja seperti alarm. Alarm ini muncul ketika suatu tugas terasa terlalu mudah, terlalu sulit, atau tidak memiliki nilai yang berarti bagi seseorang.
Lalu, bagaimana dengan temuan pada 2026? Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Current Psychology meneliti 174 mahasiswa di Turki. Hasilnya menunjukkan adanya hubungan antara kebiasaan menunda tugas dan kecanduan media sosial, dengan rasa bosan menjadi penghubung paling kuat di antara keduanya. Mahasiswa yang kesulitan mengenali perasaannya sendiri juga cenderung lebih rentan terjebak dalam pola tersebut.

Polanya sebenarnya cukup mudah dikenali. Tugas ditunda, rasa bosan semakin meningkat, lalu layar ponsel menawarkan pelarian yang cepat dan seolah tidak ada habisnya. Pola serupa juga ditemukan pada remaja di India dan kelompok Generasi Z.
Meski begitu, ada dua hal penting yang perlu dipahami. Pertama, studi tersebut hanya mengamati kondisi peserta pada satu waktu, sehingga belum bisa memastikan hubungan sebab-akibat. Artinya, media sosial juga mungkin berperan memperparah rasa bosan. Kedua, bosan tidak otomatis membuat anak menjadi kreatif. Hasil akhirnya bergantung pada bagaimana anak merespons dan mengelola rasa bosan tersebut.
Di sinilah ada pesan penting untuk Ayah Bunda dan Bapak Ibu Guru. Kita tidak perlu langsung panik setiap kali anak merasa bosan. Yang lebih penting adalah membantu mereka mengelola rasa tersebut agar tidak selalu berakhir dengan membuka layar ponsel.
Bosan yang dikelola dengan baik bisa menjadi ruang untuk berpikir, bermain, dan berkarya. Sebaliknya, jika setiap rasa bosan langsung diatasi dengan media sosial, anak bisa semakin terbiasa mencari pelarian instan. Dalam jangka panjang, pola ini berpotensi berkaitan dengan kebiasaan menunda tugas dan ketergantungan digital.
Saat Ananda mengeluh bosan, Ayah Bunda bisa mencoba bertanya, “Kamu bosan, lelah, atau sebenarnya ingin ditemani?” Pertanyaan sederhana ini membantu anak belajar memahami dan menamai emosinya. Anak yang mampu mengenali perasaannya sendiri cenderung tidak mudah mencari pelarian instan setiap kali merasa tidak nyaman.
Baca juga: Mengapa Skor PISA Penting bagi Ekonomi Indonesia? Jawabannya Ada di Ruang Kelas
Anak juga membutuhkan waktu untuk mengeksplorasi kegiatan tanpa terus-menerus diberi instruksi. Ayah Bunda bisa menyediakan bahan sederhana, seperti buku, kertas, balok, alat gambar, pot tanaman, atau melibatkan anak dalam tugas rumah yang bermakna. Dari aktivitas sederhana inilah anak bisa mulai menemukan kesibukan dan kesenangannya sendiri.
Di kelas, guru bisa mulai mengurangi aktivitas yang hanya mengandalkan hafalan pasif. Berikan proyek, pertanyaan terbuka, atau pilihan cara belajar agar siswa merasa lebih terlibat dan memahami manfaat dari tugas yang dikerjakan. Ketika anak memiliki kendali dan melihat nilai dari aktivitasnya, proses belajar bisa terasa lebih bermakna.
Pada akhirnya, anak usia dini belum tentu langsung tahu bagaimana menghadapi rasa bosan. Mereka masih membutuhkan pengalaman, kesempatan untuk mencoba, dan pendampingan dari orang dewasa. Seiring waktu, anak bisa belajar mengelola kebosanannya secara mandiri.
Jadi, saat Ananda berkata bosan, mungkin yang dibutuhkan bukan sekadar aktivitas baru atau ponsel sebagai pengalih perhatian. Bisa jadi, ia sedang membutuhkan bantuan untuk memahami perasaannya dan menemukan cara yang lebih sehat untuk mengisi waktunya.
A lifelong learner. Running, exploring, and iterating everyday. Write and documenting my journey to become more mindful and active in life.