Anak Pintar Bukan Cuma soal Nilai: 5 Prinsip Parenting untuk Menyiapkan Masa Depan Anak

Foto: Pinterest

PresGoNews.com – Dari juara kelas hingga skor PISA, ukuran “anak pintar” terus berubah mengikuti zaman. Lima fondasi pengasuhan dari buku “The 5 Principles of Parenting” bisa membantu Ayah Bunda mempersiapkan Ananda menghadapi masa depan.

Pada era 1980-an hingga 1990-an, ukuran anak pintar terbilang sederhana. Mereka biasanya dikenal sebagai juara kelas, mendapat peringkat teratas di rapor, atau meraih nilai ujian tertinggi. Wajar kalau Ayah Bunda merasa bangga saat nama Ananda dipanggil ke depan untuk menerima penghargaan atas prestasinya.

Memasuki tahun 2000-an, Ujian Nasional menjadi salah satu penentu keberhasilan siswa. Selama hampir dua dekade, banyak keluarga menjadikan angka pada lembar hasil ujian sebagai tolok ukur pencapaian anak. Hal ini juga terlihat dari menjamurnya bimbingan belajar di berbagai sudut kota.

Namun, seiring berjalannya waktu, cara pandang terhadap kecerdasan anak mulai berubah. Pada 2021, Ujian Nasional resmi digantikan oleh Asesmen Nasional. Perubahan ini menandai pergeseran fokus pendidikan ke kemampuan bernalar, literasi, dan karakter siswa.

Baca juga: Screen Time Anak: Apa Kata Riset Terbaru 2026 tentang Dampaknya bagi Perkembangan Anak?

Lalu, bagaimana kondisi kemampuan anak Indonesia saat ini? Data menunjukkan masih ada tantangan yang perlu diperhatikan. World Bank memperkirakan 53% anak Indonesia pada akhir usia sekolah dasar belum mampu memahami teks sederhana. Sementara itu, PISA 2022 mencatat hanya 25% siswa berusia 15 tahun yang mencapai kemampuan membaca minimum. Dalam matematika, angkanya bahkan hanya 18%.

Data tersebut memberi kita gambaran bahwa nilai rapor dan kemampuan menghafal saja belum cukup untuk menunjukkan kesiapan anak menghadapi masa depan. Anak pintar masa kini juga perlu mampu mengelola diri, bangkit setelah mengalami kegagalan, bekerja sama dengan orang lain, serta tetap bersikap baik ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.

Menariknya, kemampuan tersebut tidak hanya dibentuk di sekolah. Justru, rumah menjadi salah satu tempat pertama bagi anak untuk belajar mengenali emosi, membangun hubungan, dan menghadapi berbagai tantangan dalam hidup.

Prinsip parenting untuk mendukung tumbuh kembang ananda

Pola Asuh Anak
Created by AI

Pada 2024, psikolog perkembangan Aliza Pressman menerbitkan buku best seller berjudul The 5 Principles of Parenting. Melalui buku ini, ia merangkum hasil riset selama puluhan tahun menjadi lima fondasi pengasuhan yang dapat diterapkan oleh berbagai keluarga, termasuk keluarga di Indonesia.

Relationship: Jadikan rumah tempat paling aman untuk pulang.

Anak akan lebih berani menjelajahi dunia ketika ia tahu ada tempat aman untuk kembali. Karena itu, saat Ananda kalah dalam lomba atau belum berhasil mencapai targetnya, pelukan dan dukungan sebaiknya hadir lebih dulu sebelum evaluasi dilakukan. Rumah yang hangat dan nyaman menjadi fondasi penting bagi anak untuk tumbuh, belajar, dan mengejar berbagai pencapaian.

Reflection: Kenali diri sendiri sebelum memahami anak.

Sebagai orang tua, Ayah Bunda juga perlu mengenali pemicu emosi dan memahami pola pengasuhan yang terbentuk sejak masa kecil. Tanpa disadari, beberapa reaksi kita terhadap anak bisa berasal dari pengalaman masa lalu yang belum sempat dipahami atau diselesaikan.

Sebelum menjadi orang tua, kita juga pernah menjadi anak. Karena itu, bukan tidak mungkin ada pengalaman masa kecil atau childhood wound yang masih memengaruhi cara kita mengasuh Ananda. Dengan mengenali pola tersebut, Ayah Bunda bisa lebih sadar dalam merespons perilaku anak dan tidak sekadar mengulang cara pengasuhan yang pernah diterima.

Regulation: Tenangkan diri sebelum menenangkan anak.

Anak-anak masih belajar mengenali dan mengelola emosinya. Dalam proses tersebut, mereka membutuhkan orang dewasa yang bisa membantu memberikan rasa aman dan ketenangan. Para ahli mengenal proses ini sebagai co-regulation, yaitu ketika orang dewasa membantu anak mengelola emosi melalui respons yang tenang dan suportif.

Bukan berarti semua perilaku anak harus dibiarkan begitu saja. Setiap perasaan boleh hadir, tetapi perilaku tetap memiliki batas. Kuncinya adalah bagaimana Ayah Bunda merespons situasi dengan tenang, sehingga anak bisa belajar menghadapi emosinya tanpa kehilangan arah.

Rules: Berikan aturan yang jelas dan konsisten.

Anak membutuhkan batasan agar memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Aturan mengenai waktu tidur, penggunaan gawai, screen time, hingga tugas rumah dapat membantu Ananda menjalani kesehariannya dengan lebih terarah.

Agar aturan bisa berjalan dengan baik, Ayah Bunda perlu menyepakatinya sejak awal dan menyampaikannya secara jelas. Ketegasan tidak harus disertai ancaman. Justru, aturan yang disepakati bersama dan diterapkan secara konsisten oleh seluruh anggota keluarga akan membantu anak memahami tanggung jawabnya, tanpa merasa bahwa aturan hanya berlaku untuk dirinya.

Repair: Ajarkan anak bahwa kesalahan bisa diperbaiki.

Menjadi orang tua bukan berarti harus selalu bisa mengendalikan keadaan. Ada kalanya Ayah Bunda merasa lelah, kehilangan kesabaran, atau terlanjur membentak Ananda. Ketika hal itu terjadi, kita tetap punya kesempatan untuk memperbaiki keadaan.Misalnya, Ayah Bunda bisa mengatakan, “Tadi Bunda berteriak. Itu tidak tepat. Aturannya tetap, dan Bunda minta maaf atas caranya.”

Dari respons tersebut, anak belajar bahwa meminta maaf tidak berarti harus menghapus aturan yang sudah ditetapkan. Kita bisa mengakui kesalahan sekaligus tetap bertanggung jawab atas keputusan yang dibuat.

Pelajaran ini akan berguna bagi Ananda saat berinteraksi dengan teman di kelas, rekan kerja ketika dewasa, hingga keluarganya kelak. Tentu, kita ingin membesarkan anak yang mampu mengakui kesalahan dan memperbaikinya, bukan anak yang selalu merasa benar. Sebab, berani meminta maaf dan mengakui kesalahan merupakan bagian penting dari kedewasaan.

Meski begitu, lima fondasi ini tetap memiliki batas. Pengasuhan yang baik tidak bisa menggantikan kebutuhan akan gizi yang cukup, layanan kesehatan, ataupun pendidikan yang berkualitas. Pressman juga menegaskan bahwa tidak ada satu cara pengasuhan yang berlaku untuk semua keluarga. Parenting bukan pendekatan one-size-fits-all. Setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda, begitu pula setiap keluarga. Yang terpenting adalah memahami kebutuhan anak dan menerapkan prinsip pengasuhan secara tepat.

Baca juga: 3 Pelajaran Parenting dari The Book You Wish Your Parents Had Read yang Bisa Mengubah Cara Orang Tua Memahami Anak

Ada perkembangan positif yang patut diapresiasi. PISA mencatat keterlibatan orang tua di Indonesia dalam membicarakan kemajuan anak bersama guru meningkat dari 2018 ke 2022. Ini menjadi sinyal baik bahwa kemitraan antara rumah dan sekolah semakin berkembang. Artinya, semakin banyak Ayah Bunda yang menyadari pentingnya terlibat dalam proses belajar dan tumbuh kembang Ananda.

Di Prestasi Global, kemitraan antara rumah dan sekolah juga dibangun melalui pendekatan yang sejalan. Dalam keseharian, guru berupaya membantu anak membedakan emosi dan perilaku, menetapkan batasan tanpa mempermalukan mereka di depan kelas, serta memberikan ruang bagi Ananda untuk memperbaiki kesalahan dan belajar meminta maaf.

Pada akhirnya, arti anak pintar akan terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Namun, kemampuan mengelola emosi, membangun hubungan yang sehat, memahami batasan, dan berani memperbaiki kesalahan akan tetap menjadi bekal penting bagi masa depan anak.

Yuk, Ayah Bunda, terus bertumbuh bersama Ananda. Kita tidak harus menjadi orang tua yang sempurna, tetapi selalu punya kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri. Salah satu langkah awalnya bisa dimulai dengan membaca buku seperti The 5 Principles of Parenting dan menerapkan pelajaran yang relevan dalam keseharian keluarga.

A lifelong learner. Running, exploring, and iterating everyday. Write and documenting my journey to become more mindful and active in life.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga