BEM Sejumlah Kampus Tolak Wacana Dapur MBG di Lingkungan Kampus

PresGoNews.com, Jakarta – Wacana pelibatan kampus dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai bikin gaduh di dunia pendidikan tinggi. Sejumlah kampus dan organisasi mahasiswa ramai-ramai menyuarakan penolakan terhadap rencana pembangunan dapur MBG di lingkungan perguruan tinggi. Bukan karena menolak program makan gratisnya, tapi mereka menilai kampus seharusnya tetap fokus jadi tempat belajar, riset, dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Baca juga: Siswa SMK di Kudus Tolak MBG, Pilih Dana Dialihkan untuk Kesejahteraan Guru

Sorotan paling besar datang dari BEM KM IPB University. Organisasi mahasiswa itu secara terbuka menyampaikan penolakan terhadap rencana dapur MBG di kampus melalui surat terbuka yang ditujukan kepada Badan Gizi Nasional (BGN). Mereka menilai kampus jangan sampai berubah fungsi jadi operator program pemerintah.

Presiden Mahasiswa BEM KM IPB, Muhammad Abdan Rofi, bahkan menyampaikan kritik langsung kepada pemerintah.

“Kepada Kepala Badan Gizi Nasional, tolong pak, jangan terlalu memaksa,” ujarnya pada, Rabu (6/5), melalui unggahan resmi media sosial BEM KM IPB.

Mereka juga menyoroti berbagai persoalan yang muncul dalam pelaksanaan MBG, mulai dari dugaan salah sasaran sampai kasus keracunan makanan yang sempat terjadi di beberapa daerah.

Menurut BEM IPB, perguruan tinggi punya peran utama sebagai lembaga moral dan intelektual. Karena itu, mereka khawatir jika kampus terlalu jauh dilibatkan dalam operasional MBG, fungsi pendidikan dan akademik justru jadi terganggu.

Menu MBG

Mahasiswa soroti risiko program yang belum siap

Respons serupa juga muncul dari Universitas Indonesia. Meski tidak secara terang-terangan menolak MBG, Rektor UI Heri Hermansyah meminta agar wacana pembangunan dapur MBG di kampus dipertimbangkan lagi. Ia menilai aktivitas semacam itu lebih cocok dijalankan unit usaha kampus, bukan langsung di area akademik utama.

“Tentunya bukan di universitasnya, tetapi di unit usahanya yang lebih relevan,” ujar Heri pada, Senin (4/5).

Ia juga menegaskan bahwa tugas utama perguruan tinggi tetap berada di bidang pendidikan, riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.

Baca juga: DPR Panggil BGN Karena Pengadaan Motor Listrik Rp42 Juta untuk Kepala SPPG Bikin Sorotan

Sementara itu, BEM Universitas Udayana ikut meminta pemerintah mengevaluasi pelaksanaan MBG, khususnya di Bali. Mahasiswa menilai program tersebut masih memiliki banyak catatan, terutama terkait ketepatan sasaran dan kesiapan teknis di lapangan. Mereka khawatir program yang seharusnya membantu masyarakat justru memunculkan masalah baru kalau pelaksanaannya belum matang.

Di tengah gelombang kritik itu, Badan Gizi Nasional menegaskan tidak ada unsur paksaan kepada kampus untuk ikut menjalankan MBG. Pemerintah menyebut keputusan tetap berada di masing-masing perguruan tinggi. Meski begitu, polemik soal dapur MBG di kampus diprediksi masih akan terus berlanjut, apalagi banyak mahasiswa mulai mempertanyakan batas antara fungsi pendidikan dan program pemerintah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga