PresGoNews.com, Jakarta – Aksi yang dilakukan Muhammad Rafif Arsya Maulidi, siswa SMK asal Kudus, ini langsung mencuri perhatian publik. Lewat sebuah surat yang ditujukan kepada Prabowo Subianto, Arsya secara terbuka menyampaikan penolakannya terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Surat itu ia unggah di akun Instagram pribadinya dan mulai ramai diperbincangkan sejak awal April, tepatnya sekitar Selasa (1/4).
Langkah ini terasa beda dari biasanya. Di saat banyak siswa mungkin akan menerima bantuan tersebut tanpa banyak pertimbangan, Arsya justru mengambil posisi yang cukup berani dengan menyuarakan pendapatnya secara langsung ke orang nomor satu di Indonesia.
Baca juga: Prabowo Bertemu Kaisar Naruhito di Jepang, Perkuat Kerja Sama Strategis di Tengah Dinamika Global
Dalam suratnya, Arsya menyampaikan alasan yang cukup menyentuh. Ia melihat masih banyak guru yang belum mendapatkan kesejahteraan yang layak, termasuk di sekolahnya sendiri, SMK NU Miftahul Falah. Menurutnya, para guru sudah memberikan banyak hal untuk siswa, tapi belum selalu mendapat apresiasi yang sepadan.
Ia pun mengusulkan agar dana yang seharusnya ia terima dari program MBG dialihkan saja untuk tambahan tunjangan guru. Buat Arsya, ini bukan soal menolak bantuan, tapi lebih ke bagaimana dana tersebut bisa dimanfaatkan untuk hal yang menurutnya lebih berdampak dalam jangka panjang.
Yang bikin makin salut, Arsya diketahui berasal dari keluarga sederhana. Namun kondisi itu tidak menghalanginya untuk tetap berpikir luas dan peduli terhadap orang lain.
Menariknya, Arsya tidak hanya menyampaikan pendapat, tapi juga menghitung secara rinci nilai bantuan yang ia tolak. Ia memperkirakan bahwa dalam kurun waktu 18 bulan, total dana yang seharusnya ia terima mencapai sekitar Rp6,75 juta.
Angka tersebut mungkin tidak terlalu besar jika dilihat secara umum, tapi bagi Arsya, jumlah itu cukup berarti jika dijadikan bentuk penghargaan untuk guru. Hal ini menunjukkan bahwa apa yang ia sampaikan bukan sekadar opini spontan, melainkan sudah dipikirkan dengan cukup matang.

Setelah surat itu diunggah, respons dari publik langsung berdatangan. Banyak warganet yang merasa tersentuh sekaligus kagum dengan sikap Arsya. Tidak sedikit yang menyebut bahwa apa yang ia lakukan adalah contoh nyata empati dan kepedulian dari generasi muda.
Sejumlah akademisi juga ikut memberikan pandangan. Mereka menilai langkah Arsya sebagai bentuk kritik yang positif dan konstruktif terhadap kebijakan publik, khususnya di sektor pendidikan. Di sisi lain, momen ini juga memicu diskusi yang lebih luas tentang bagaimana seharusnya prioritas anggaran pendidikan dialokasikan.
Baca juga: Komodo Terbang ke Jepang, Diplomasi Satwa Indonesia Cara Baru Bangun Relasi Global
Apa yang dilakukan Arsya sebenarnya sederhana, tapi dampaknya terasa besar. Di tengah berbagai program pemerintah yang terus berjalan, suara seperti ini jadi pengingat bahwa kesejahteraan guru tetap menjadi isu penting yang tidak bisa diabaikan.
Kisah ini juga memperlihatkan bahwa generasi muda sekarang bukan cuma jadi penerima kebijakan, tapi juga mulai aktif memberi masukan. Dengan cara yang santun tapi tegas, Arsya berhasil menunjukkan bahwa satu suara pun bisa membawa perubahan, atau setidaknya membuka ruang diskusi yang lebih luas.