PresGoNews.com, Jakarta – Keberadaan ribuan motor listrik yang dikaitkan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perbincangan hangat. Setelah sempat viral beberapa bulan lalu, kini kendaraan-kendaraan tersebut kembali mencuri perhatian usai terlihat tersimpan dalam jumlah besar di sebuah kawasan pergudangan di Sentul, Kabupaten Bogor.
Pemandangan deretan motor yang belum digunakan itu pun memicu berbagai pertanyaan dari masyarakat, terutama terkait efektivitas pengadaan dan pemanfaatannya untuk mendukung program unggulan pemerintah tersebut.
Baca juga: Prabowo Rombak Pimpinan BGN, Nanik S. Deyang Gantikan Dadan Hindayana Usai Evaluasi MBG
Ramainya sorotan publik bukan tanpa alasan. Di saat program Makan Bergizi Gratis terus diperluas ke berbagai daerah, banyak orang bertanya-tanya mengapa ribuan kendaraan operasional itu masih berada di gudang dan belum terlihat aktif digunakan di lapangan. Kondisi ini kemudian memunculkan diskusi mengenai urgensi pengadaan, kesiapan distribusi, hingga transparansi penggunaan anggaran yang telah dialokasikan.
Menanggapi polemik yang berkembang, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menjelaskan bahwa motor listrik tersebut memang merupakan bagian dari rencana pengadaan tahun anggaran 2025. Kendaraan itu disiapkan untuk mendukung mobilitas Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjadi ujung tombak pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis di berbagai wilayah.
Dadan mengatakan bahwa pengadaan motor tersebut memang sudah masuk dalam perencanaan anggaran dan diperuntukkan bagi kebutuhan operasional petugas di lapangan, ujar Dadan pada Senin (7/4).
Di tengah beredarnya berbagai informasi di media sosial, BGN juga membantah kabar yang menyebut jumlah pengadaan mencapai 70 ribu unit. Menurut penjelasan lembaga tersebut, realisasi pengadaan hingga saat ini berada di angka 21.801 unit dari target sekitar 25 ribu unit yang telah direncanakan sebelumnya. BGN menyebut kendaraan-kendaraan tersebut belum didistribusikan karena masih menunggu proses administrasi sebagai Barang Milik Negara (BMN). Dengan kata lain, kendaraan sudah tersedia, tetapi belum bisa langsung digunakan sebelum seluruh tahapan administrasi selesai.

BGN juga menekankan bahwa motor listrik yang dipilih merupakan produk dalam negeri dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) mencapai 48,5 persen. Menurut Dadan, penggunaan kendaraan tersebut bukan hanya untuk mendukung operasional program, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pemerintah mendorong pertumbuhan industri nasional.
“Ini adalah bagian dari upaya kami untuk tidak hanya mendukung operasional program, tetapi juga mendorong industri nasional melalui penggunaan produk dalam negeri dengan TKDN yang signifikan,” ujar Dadan pada Rabu (9/4).
Baca juga: BGN Alihkan Fokus ke Kualitas Program MBG, Tidak Lagi Kejar Target Jumlah Penerima
Meski penjelasan resmi telah disampaikan, polemik mengenai motor listrik Makan Bergizi Gratis masih terus bergulir. Banyak pihak menilai pemerintah perlu memberikan informasi yang lebih terbuka terkait jadwal distribusi, skema penggunaan, serta manfaat konkret kendaraan tersebut bagi pelaksanaan program.
Pasalnya, di tengah besarnya anggaran yang digelontorkan untuk Makan Bergizi Gratis, masyarakat tentu berharap setiap aset yang dibeli dapat segera dimanfaatkan secara optimal dan memberikan dampak nyata bagi layanan gizi yang menjadi target utama program tersebut.