Film “Pesta Babi” Jadi Sorotan Usai Nobar Dibubarkan di Sejumlah Daerah

PresGoNews.com, Jakarta – Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita belakangan ramai jadi perbincangan publik setelah beberapa agenda nonton bareng (nobar) dan diskusinya dibubarkan di sejumlah daerah. Dokumenter garapan Dandhy Laksono bersama tim Watchdoc ini mengangkat kehidupan masyarakat adat Papua yang terdampak proyek perkebunan dan industri besar di wilayah Papua Selatan.

Baca juga: Kebenaran di Balik Rumor Rilisnya Season 6 Money Heist Ini Fakta Sebenarnya

Lewat film ini, penonton diajak melihat kondisi masyarakat adat di Merauke, Boven Digoel, hingga Mappi yang disebut kehilangan hutan adat dan ruang hidup akibat ekspansi proyek pangan serta bioetanol.

Judul “Pesta Babi” sendiri ternyata bukan sekadar nama unik atau kontroversial. Istilah tersebut diambil dari tradisi adat masyarakat Muyu bernama Awon Atatbon, sebuah ritual budaya yang menjadikan babi sebagai simbol sosial dan kebersamaan.

Kontroversi mulai muncul setelah beberapa acara pemutaran film dibubarkan, termasuk di Mataram dan Ternate. Pembubaran itu disebut terjadi karena berbagai alasan, mulai dari persoalan izin kegiatan sampai kekhawatiran isi film dianggap sensitif dan bisa memicu polemik di masyarakat.

Situasi ini justru bikin nama Pesta Babi makin viral di media sosial. Banyak mahasiswa dan pegiat kebebasan berekspresi menilai pembubaran nobar malah membuat rasa penasaran publik semakin besar.

Polemik film buka diskusi soal kebebasan berekspresi

Pesta Babi

Di tengah ramainya perdebatan, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra menegaskan pemerintah tidak pernah melarang film tersebut diputar.

“Silakan tonton dan debat,” ujar Yusril pada, Kamis (14/5).

Respons serupa juga datang dari anggota DPR RI TB Hasanuddin. Ia menilai tidak ada bukti bahwa film dokumenter tersebut melanggar undang-undang dan mengingatkan bahwa kebebasan memperoleh informasi dijamin konstitusi. Pernyataan itu kemudian ramai dibahas publik karena dianggap mendukung ruang diskusi yang lebih terbuka terkait isu Papua dan masyarakat adat.

Baca juga: Film The Hostages Hero: Misi Penyelamatan Nyata yang Bikin Tegang dari Awal Sampai Akhir

Sementara itu, Direktur Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno ikut menyoroti fenomena pembubaran nobar yang dinilai berlebihan.

“Enggak usahlah takut sama film,” ujar Adi pada, Jumat (15/5).

Kini, Pesta Babi bukan cuma jadi film dokumenter biasa, tetapi juga memicu diskusi luas soal kebebasan berekspresi, hak masyarakat adat, hingga dampak proyek industri terhadap lingkungan dan kehidupan warga lokal di Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga