PresGoNews.com, Jakarta – Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI lagi jadi sorotan setelah resmi menggandeng sejumlah “homeless media” sebagai mitra komunikasi publik pemerintah. Kolaborasi ini mulai diumumkan dalam konferensi pers di Jakarta pada Rabu (6/5), dan langsung ramai dibahas di media sosial karena dianggap jadi langkah baru pemerintah dalam mendekati generasi digital.
Istilah homeless media sendiri dipakai untuk menyebut media berbasis media sosial yang berkembang tanpa bergantung penuh pada website berita konvensional. Mereka lebih aktif lewat Instagram, TikTok, X, sampai YouTube dengan gaya penyampaian yang cepat, visual, dan dekat dengan anak muda.
Beberapa nama yang disebut masuk dalam ekosistem New Media Forum antara lain Folkative, Dagelan, USS Feed, CXO Media, Indozone, Big Alpha, Menjadi Manusia, sampai Bapak-Bapak ID.
Kepala Bakom RI, Muhammad Qodari, mengatakan kerja sama ini muncul karena cara masyarakat menerima informasi sudah berubah total. Sekarang, banyak orang lebih sering dapat berita dari media sosial dibanding portal berita biasa. Karena itu, pemerintah merasa perlu ikut menyesuaikan cara komunikasi mereka agar informasi bisa sampai lebih luas dan lebih cepat.
“Kehadiran teman-teman New Media mencerminkan upaya Bakom untuk menjangkau publik seluas-luasnya,” ujar Muhammad Qodari pada, Rabu (6/5).
Menurut Bakom, kerja sama ini bukan cuma soal menyebarkan informasi pemerintah, tapi juga membangun pola komunikasi digital yang lebih modern. Homeless media nantinya akan membantu menyampaikan program pemerintah lewat konten yang lebih ringan, mudah dipahami, dan relatable buat generasi muda. Mulai dari isu kebijakan publik, program sosial, sampai kampanye komunikasi digital pemerintah bakal dikemas dengan gaya media sosial yang lebih engaging.

Di sisi lain, Bakom juga menyinggung soal pentingnya standar jurnalistik di era media digital. Pemerintah berharap media-media baru ini tetap memperhatikan verifikasi informasi, keseimbangan pemberitaan, dan prinsip cover both side supaya kualitas informasinya tetap terjaga.
“Ada beberapa aspek mendasar dari media konvensional yang perlu diperkuat oleh media baru,” kata Qodari pada, Rabu (6/5).
Meski terdengar seperti bentuk adaptasi pemerintah terhadap perkembangan zaman, kerja sama ini tetap memunculkan pro dan kontra. Sebagian publik menganggap langkah tersebut sebagai cara pemerintah mengikuti pola komunikasi modern yang sekarang lebih dekat dengan media sosial. Tapi di sisi lain, ada juga yang khawatir kedekatan homeless media dengan pemerintah bisa memengaruhi independensi konten mereka.
Sampai sekarang, pembentukan New Media Forum masih jadi pembahasan hangat di media sosial dan dianggap sebagai salah satu perubahan besar dalam pola komunikasi publik pemerintah di era digital.