PresGoNews.com – Selama setengah abad, ilmuwan mempelajari kelelahan di tempat kerja. Namun, belakangan mereka menyadari bahwa rumah juga bisa menjadi tempat kerja yang paling melelahkan.
Pada 1974, psikolog Herbert Freudenberger memperkenalkan istilah burnout untuk menggambarkan kondisi pekerja yang kehabisan energi, baik secara fisik maupun emosional. Selama puluhan tahun, istilah ini identik dengan kantor, rumah sakit, dan ruang kelas.
Sekitar 2017, sekelompok peneliti di Belgia mulai mengukur kondisi serupa pada peran yang seolah tidak pernah mengenal hari libur, yaitu mengasuh anak. Mereka menyebutnya parental burnout, atau burnout pengasuhan.
Burnout pengasuhan bukan sekadar rasa lelah biasa. Ada tiga tanda utama yang perlu diperhatikan, yaitu kelelahan yang terus-menerus, jarak emosional dengan anak, serta perasaan tidak mampu menjalankan peran sebagai Ayah atau Bunda. Kondisi ini muncul ketika tuntutan pengasuhan terus melampaui sumber daya yang tersedia, mulai dari waktu, tenaga, uang, dukungan pasangan dan keluarga, hingga akses terhadap layanan yang dibutuhkan.
Masalah ini juga terjadi di Indonesia. Sebuah penelitian selama pandemi terhadap 164 pasangan orang tua menemukan bahwa 15% mengalami burnout pada tingkat tinggi dan 64% pada tingkat sedang. Situasi pandemi memang memiliki kondisi khusus, tetapi angka tersebut menunjukkan bahwa masalah ini cukup dekat dengan kehidupan kita.
Parental burnout ternyata juga bisa berdampak pada anak. Studi yang dilakukan Katherine M. Ryan dan rekan-rekannya pada 2026 terhadap 140 pengasuh di Australia menemukan bahwa burnout berkaitan dengan berkurangnya kehangatan dan keterlibatan orang tua, sekaligus meningkatnya respons yang keras dan memaksa.
Hubungan ini bisa berlangsung dua arah. Orang tua yang kelelahan lebih mudah terpancing emosi. Anak kemudian bisa menjadi semakin rewel atau agresif. Perilaku anak tersebut kembali menambah kelelahan orang tua, sehingga lingkaran ini terus berulang. Inilah yang membuat parental burnout menjadi siklus yang sulit diputus dan semakin rumit untuk dihadapi.
Namun, ada kabar yang bisa menenangkan Ayah Bunda. Tidak semua anak akan mengalami dampak jangka panjang. Dukungan sosial, hubungan yang hangat dengan orang dewasa lain, serta pertolongan sejak dini dapat membantu mengubah arah perkembangan mental anak.

Lalu, apa yang bisa dilakukan? Terutama, apa yang bisa dilakukan orang tua?
Kenali tanda-tanda awal. Setiap minggu, coba tanyakan kepada diri sendiri: apakah saya menjadi lebih mudah marah karena hal kecil, merasa anak sebagai beban, sulit menikmati waktu bersamanya, atau sering berpikir, “Saya tidak sanggup”? Jika dua tanda tersebut muncul berulang kali selama beberapa minggu, inilah saatnya mengurangi beban dan mencari dukungan.
Beri jeda sebelum bereaksi. Ketika emosi mulai memuncak, berhenti selama sepuluh detik, tarik napas, lalu katakan, “Aku sedang kesal, aku butuh satu menit untuk tenang.” Setelah suasana lebih kondusif, bicarakan masalah tersebut dengan tenang dan disiplin, terutama bersama pasangan.
Bangun desa pengasuhan. Pepatah lama mengatakan, it takes a village to raise a child. Artinya, membesarkan anak membutuhkan dukungan dari banyak orang. Pasangan perlu berbagi tugas secara spesifik sesuai kapasitas masing-masing. Kakek dan nenek, tetangga, komunitas sesama orang tua, sekolah, layanan kesehatan, hingga tempat kerja yang ramah keluarga, semuanya memiliki peran penting dalam mendukung pengasuhan.
Baca juga: Remaja Lebih Nyaman Curhat ke AI? Saatnya Orang Tua Hadir dan Mendengar
Jika muncul gejala depresi, kecemasan berat, atau dorongan untuk menyakiti diri sendiri maupun anak, segera cari bantuan profesional. Langkah ini bukan tanda kegagalan sebagai orang tua, melainkan bentuk perlindungan bagi anak.

Di Prestasi Global, PresGo Psychology Center siap menjadi bagian dari desa pengasuhan Ayah Bunda. Tidak hanya menghadirkan psikolog dan konselor profesional untuk mendampingi Ayah Bunda, PresGo Psychology Center juga berperan dalam membekali guru-guru di Prestasi Global dengan pengetahuan dan kemampuan untuk menghadapi permasalahan pengasuhan serta meningkatkan kesadaran terhadap hal tersebut. Dengan begitu, tercipta desa pengasuhan yang lebih lengkap, sekaligus ruang aman bagi orang tua dan anak.
Sejak awal, Freudenberger meneliti para pekerja yang mengalami kelelahan. Kini, kita memahami bahwa pekerjaan paling penting di dunia juga membutuhkan istirahat dan rekan untuk berbagi peran, yaitu menjadi orang tua.