PresGoNews.com – Salah satu riset pendidikan terbaru dari Australia menunjukkan bahwa anak lebih menikmati kegiatan menulis ketika orang tuanya ikut menulis bersama mereka.
Pada 1899, seorang perempuan muda di Jepara mulai rutin menulis surat kepada sahabatnya di Belanda. Lewat setiap surat, ia menuangkan pengalaman, kegelisahan, dan gagasan yang ada di pikirannya. Surat-surat Kartini kemudian dibukukan pada 1911 dan ikut mengubah cara pandang bangsa ini terhadap pendidikan perempuan. Dari sini, kita bisa melihat betapa kuatnya sebuah tulisan. Gagasan seorang perempuan muda ternyata mampu ikut mengubah arah sebuah bangsa.
Sejak dulu, menulis menjadi salah satu cara manusia memahami dirinya sendiri. Kini, riset terbaru menunjukkan bagaimana kebiasaan ini bisa tumbuh sejak anak-anak, sekaligus mengungkap dari mana semuanya bermula.
Kelso-Marsh dan rekan-rekan peneliti di Australia melakukan penelitian terhadap 159 siswa kelas 2 SD beserta keluarga mereka di 12 sekolah di Perth. Setiap anak diminta menulis sebuah cerita selama 10 menit. Setelah itu, orang tua mereka ditanya seberapa sering mereka menulis bersama anak, misalnya saat membuat kartu ucapan atau daftar belanja, serta apa yang mendorong mereka melakukan kegiatan tersebut.
Baca juga: Membangun Pendidikan Berkualitas Dimulai dari Peningkatan Kualitas Guru
Hasilnya cukup menarik. Kebiasaan menulis di rumah ternyata membentuk sebuah rangkaian yang saling berkaitan. Orang tua yang menulis karena menikmatinya atau merasakan manfaatnya cenderung lebih sering mengajak anak menulis. Kebiasaan ini berkaitan dengan tumbuhnya kesukaan anak terhadap kegiatan menulis. Selanjutnya, anak yang menyukai menulis cenderung menghasilkan cerita dengan kosakata, tata bahasa, dan struktur yang lebih baik. Ini menjadi tanda bahwa cara berpikir mereka juga lebih runtut dan terstruktur.
Ada dua temuan lain yang juga menarik untuk kita cermati. Pertama, orang tua yang terdorong oleh rasa bersalah ternyata tidak lebih sering terlibat dalam kegiatan menulis bersama anak. Kedua, orang tua yang menganggap menulis itu penting, tetapi jarang melakukannya bersama anak, justru dikaitkan dengan sikap anak yang kurang positif terhadap kegiatan menulis.
Artinya, meyakini bahwa menulis itu penting saja belum cukup. Sama seperti membaca, kebiasaan menulis perlu diwujudkan dalam kegiatan nyata yang dilakukan bersama anak.
Tentu saja, penelitian ini memiliki keterbatasan. Penelitian tersebut hanya menggambarkan kondisi pada satu titik waktu sehingga hubungan sebab-akibatnya belum bisa dipastikan. Bisa saja, orang tua lebih senang mendampingi anak yang memang sudah menyukai kegiatan menulis. Meski begitu, ada pesan penting yang bisa kita ambil: memberikan contoh secara langsung, di depan dan bersama anak, bisa memberikan dampak yang lebih kuat daripada sekadar memberikan nasihat.

Lalu, bagaimana cara memulainya? Kita bisa mencoba langkah sederhana, yaitu membuat jurnal harian dengan tulisan tangan. Cukup luangkan waktu sebelum tidur untuk menulis tiga kalimat bersama anak. Apa yang terjadi hari ini? Apa yang kurasakan? Apa yang ingin kucoba besok?
Sesederhana itu. Tidak perlu panjang, yang penting dilakukan secara rutin dan konsisten.
Bagi anak, menulis jurnal bisa melatih kebiasaan menuangkan pengalaman, perasaan, dan ide ke dalam tulisan. Sementara itu, bagi orang tua, jurnal menjadi contoh nyata tentang bagaimana melakukan refleksi diri. Ketika anak melihat orang tuanya melakukan kebiasaan ini setiap hari, ia bisa ikut menirunya. Perlahan, kebiasaan tersebut dapat membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang terbiasa dan terbuka untuk melakukan refleksi diri.
Di Prestasi Global, kami ingin menjadikan menulis sebagai bagian dari keseharian, baik di rumah maupun di sekolah. Menulis dengan tangan, menuangkan isi kepala, dan yang paling penting, menulis untuk berefleksi. Di sekolah, kebiasaan ini dimulai dari guru yang memberikan contoh, kemudian diikuti oleh anak-anak.
Baca juga: Cara Kita Menilai Sekolah Terus Berubah, tetapi Kualitas Belajar Tetap yang Utama
Ayah Bunda, kapan terakhir kali Ananda melihat Anda menulis? Bukan sekadar mengetik pesan singkat atau membalas obrolan di grup WhatsApp, melainkan menulis untuk berpikir dan memahami sesuatu.
Anak tidak hanya belajar dari apa yang kita katakan penting. Mereka juga belajar dari apa yang kita lakukan setiap hari. Jika kita ingin anak mampu berpikir jernih, menyusun gagasan dengan baik, dan berani menyampaikan pendapatnya, kita perlu memperlihatkan caranya terlebih dahulu.
Malam ini, coba siapkan dua buku tulis: satu untuk Anda dan satu untuk Ananda. Mulailah dengan menulis tiga kalimat. Lalu, ulangi lagi besok. Tidak perlu tulisan yang indah atau panjang. Hanya ada satu syarat: Anda menulis lebih dulu.
Lebih dari seabad lalu, surat-surat seorang perempuan muda dari Jepara ikut mengubah sebuah bangsa. Siapa tahu, Kartini berikutnya sedang duduk di meja makan Ayah Bunda, menunggu orang tuanya mengambil pena lebih dulu.
A lifelong learner. Running, exploring, and iterating everyday. Write and documenting my journey to become more mindful and active in life.