Cara Kita Menilai Sekolah Terus Berubah, tetapi Kualitas Belajar Tetap yang Utama

PresGoNews.com – Ukuran sekolah yang baik terus berubah dari waktu ke waktu. Padahal, cara paling jujur untuk menilainya sebenarnya bisa kita lihat langsung di ruang kelas.

Sekitar tahun 1980-an dan 1990-an, sekolah favorit relatif mudah dikenali. Kita tinggal melihat NEM atau Nilai Ebtanas Murni para lulusannya. Semakin tinggi skornya, semakin panjang antrean pendaftar yang ingin masuk ke sekolah tersebut. Tidak heran kalau sekolah dengan NEM terbaik dan tertinggi sering dianggap sebagai sekolah favorit.

Memasuki tahun 2000-an, ukurannya bergeser ke Ujian Nasional. Sekolah berlomba-lomba menuntaskan materi sebelum ujian tiba. Kalimat “Bab terakhir sudah selesai” bahkan bisa menjadi kabar menggembirakan dalam rapat wali murid. Di sinilah pendidikan Indonesia mulai bergeser ke arah yang lebih berorientasi pada penyelesaian materi (material-oriented), bukan pada proses belajar yang benar-benar dipahami siswa.

Pada tahun 2010-an, ukuran sekolah yang baik kembali berubah. Brosur mulai memamerkan fasilitas seperti kolam renang, laboratorium, hingga puluhan pilihan ekstrakurikuler. Akun Instagram sekolah pun dipenuhi foto perlombaan dan berbagai pentas. Semakin banyak kegiatan dan program yang terlihat mentereng, semakin mudah pula sekolah tersebut dianggap sebagai sekolah terbaik.

Baca juga: Screen Time Anak: Apa Kata Riset Terbaru 2026 tentang Dampaknya bagi Perkembangan Anak?

Semua itu tentu tidak salah. Namun, ada satu hal yang sering luput saat kita memilih sekolah untuk anak, yaitu bagaimana suasana dan proses belajar di ruang kelas pada hari-hari biasa.

Mengenal tiga jenis kegiatan dalam kurikulum

Regulasi pendidikan di Indonesia sebenarnya sudah membedakan tiga jenis kegiatan pembelajaran. Kurikulum Merdeka, yang ditetapkan melalui Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024, menjelaskan pembagian tersebut dengan cukup tegas.

Intrakurikuler merupakan pembelajaran inti yang berlangsung sesuai jadwal dan struktur kurikulum. Kegiatannya mencakup matematika, IPA, bahasa, dan mata pelajaran lainnya selama jam sekolah.

Intrakurikuler bisa dipahami sebagai proses belajar yang berpusat pada pemahaman siswa, bukan sekadar mengejar target penyelesaian materi. Di dalamnya, pengetahuan (knowledge) perlu dihubungkan secara sengaja dengan praktik (skill), asesmen (test), serta umpan balik (evaluation).

Kokurikuler berfungsi memperkuat atau menerapkan pembelajaran melalui kegiatan yang tetap terhubung dengan tujuan belajar. Contohnya, setelah mempelajari ekosistem dalam pelajaran IPA, siswa membuat proyek lingkungan untuk menerapkan pengetahuan yang sudah mereka dapatkan.

Sementara itu, ekstrakurikuler mendukung pengembangan minat, bakat, dan karakter siswa di luar jam pelajaran. Kegiatannya bisa berupa futsal, robotik, paduan suara, hingga pramuka.

Ketiganya memiliki fungsi yang berbeda, tetapi saling melengkapi. Meski begitu, fondasi utama dari proses bersekolah tetap terletak pada intrakurikuler.

Mengapa demikian? Karena ketika kemampuan literasi, numerasi, dan berpikir kritis belum terbentuk dengan kuat di kelas, berbagai kegiatan tambahan justru berisiko menambah beban waktu dan beban kognitif siswa.

Lima tanda pembelajaran inti yang berkualitas

Pembelajaran yang Berkualitas

Lalu, seperti apa intrakurikuler yang baik? Sebenarnya, ada lima hal yang bisa kita perhatikan untuk melihat kualitas proses belajar di ruang kelas.

1. Tujuan belajar jelas.

Siswa perlu mengetahui kemampuan apa yang harus mereka kuasai, bukan sekadar bab mana yang harus diselesaikan. Karena itu, guru perlu menyampaikan tujuan pembelajaran sejak awal agar guru dan siswa memiliki pemahaman yang sama tentang apa yang ingin dicapai.

2. Pembelajaran terasa bermakna.

Guru menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman dan masalah nyata yang dekat dengan kehidupan siswa. Salah satu cara membuat pembelajaran lebih efektif adalah melalui korelasi dan keterkaitan. Anak akan lebih mudah memahami materi ketika mereka bisa melihat hubungannya dengan kehidupan sehari-hari.

3. Siswa terlibat aktif.

Siswa perlu diberi ruang untuk bertanya, berdiskusi, mencoba, dan memecahkan masalah. Pembelajaran tidak seharusnya hanya berjalan satu arah seperti proses transfer knowledge di ruang kelas pada masa lalu.

Sebaliknya, siswa perlu dilibatkan secara aktif agar mereka bisa mengembangkan pemahaman, mengajukan pertanyaan, dan menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk mencari solusi.

4. Asesmen digunakan untuk memperbaiki pembelajaran.

Hasil ulangan seharusnya menjadi bahan bagi guru untuk mengevaluasi dan menyesuaikan cara mengajar. Ujian tidak lagi hanya dipandang sebagai tolok ukur utama kelulusan, tetapi juga sebagai sumber informasi untuk melihat sejauh mana proses belajar berjalan dengan baik.

Sebab, dalam setiap proses pembelajaran, selalu ada ruang untuk perbaikan.

5. Ada umpan balik yang membangun.

Siswa perlu mengetahui bagian mana yang sudah mereka kuasai dan bagian mana yang masih perlu diperbaiki. Hal ini sering kali terlewat, padahal anak perlu memahami bahwa belajar merupakan proses yang berulang.

Kesalahan adalah bagian yang wajar dari proses tersebut. Melalui feedback atau umpan balik yang konstruktif, anak bisa terus berkembang tanpa harus merasa takut ketika melakukan kesalahan.

Materi yang sama belum tentu menghasilkan pemahaman yang sama

Coba bayangkan dua anak yang sama-sama sudah menyelesaikan bab pecahan dalam pelajaran matematika.

Anak pertama hafal rumusnya. Sementara itu, anak kedua bisa menjelaskan mengapa seperempat martabak lebih kecil daripada setengah martabak, meskipun angka 4 lebih besar daripada 2.

Materi yang dipelajari keduanya sama-sama selesai. Namun, tingkat pemahamannya bisa sangat berbeda.

Contoh sederhana ini menunjukkan bahwa menyelesaikan materi tidak selalu berarti memahami materi. Inilah alasan mengapa kualitas pembelajaran di ruang kelas perlu menjadi perhatian utama ketika kita menilai sebuah sekolah.

Ekstrakurikuler tetap penting untuk perkembangan anak

Lantas, bagaimana dengan ekstrakurikuler? Apakah kegiatan ini tidak penting?

Tentu saja tetap penting. Sejumlah studi di Indonesia menemukan bahwa keaktifan dalam kegiatan ekstrakurikuler berkaitan dengan kepercayaan diri, disiplin, dan motivasi belajar siswa. Salah satu studi bahkan mencatat korelasi sebesar 0,93 dengan kesuksesan akademik.

Namun, angka tersebut perlu dibaca secara hati-hati. Siswa yang aktif mengikuti ekstrakurikuler mungkin juga memiliki dukungan keluarga dan akses yang lebih baik terhadap berbagai fasilitas pendidikan. Jadi, korelasi tidak selalu berarti hubungan sebab-akibat.

Meski begitu, ekstrakurikuler tetap punya peran penting dalam melengkapi perkembangan anak di luar ruang kelas. Setiap anak memiliki ketertarikan dan potensi di bidang yang berbeda-beda, termasuk bidang yang tidak selalu terakomodasi dalam pembelajaran intrakurikuler.

Baca juga: Mengapa Skor PISA Penting bagi Ekonomi Indonesia? Jawabannya Ada di Ruang Kelas

Tiga pertanyaan penting saat memilih sekolah

Ketika Ayah Bunda berkesempatan mengunjungi sekolah yang sedang dipertimbangkan untuk anak, ada tiga pertanyaan yang bisa diajukan kepada pihak sekolah.

Pertama, bagaimana guru mengetahui bahwa siswa sudah benar-benar memahami materi yang diajarkan?

Kedua, apa yang dilakukan guru ketika ada sebagian siswa yang masih tertinggal dalam pembelajaran?

Ketiga, bagaimana pelajaran di ruang kelas dihubungkan dengan proyek kokurikuler dan kegiatan ekstrakurikuler?

Jawaban dari ketiga pertanyaan tersebut bisa memberikan gambaran yang jauh lebih mendalam tentang kualitas pembelajaran dibandingkan brosur sekolah setebal apa pun.

Di Prestasi Global, kami menyadari bahwa memperkuat pembelajaran inti merupakan fondasi utama pendidikan. Setelah fondasi tersebut dibangun, kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler dirancang sebagai ruang bagi setiap siswa untuk menerapkan pengetahuan sekaligus mengembangkan diri.

Pada akhirnya, nilai rapor, skor ujian, dan daftar kegiatan akan terus berganti menjadi ukuran keberhasilan dan kualitas sekolah. Namun, ada satu hal yang tetap relevan dari waktu ke waktu, yaitu kualitas pengalaman belajar yang dirasakan siswa setiap hari di ruang kelas.

Sebab, ketika kita ingin mengetahui seberapa baik sebuah sekolah mendidik anak, ruang kelas tetap menjadi tempat terbaik untuk menemukan jawabannya.

A lifelong learner. Running, exploring, and iterating everyday. Write and documenting my journey to become more mindful and active in life.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga