PresGoNews.com – Skor PISA Indonesia naik enam poin. Dengan kecepatan seperti ini, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyusul negara-negara tetangga di Asia Tenggara?
Pada 2012, Vietnam pertama kali mengikuti PISA. Negara dengan pendapatan per kapita yang tidak lebih tinggi dari Indonesia ini langsung melampaui banyak negara maju. Hasil tersebut cukup mengejutkan dunia pendidikan, terutama di antara negara-negara Asia Tenggara.
Sementara itu, Indonesia sudah mengikuti PISA sejak 2000, tetapi perjalanannya masih naik turun. Skor sempat merosot pada 2018, lalu kembali turun pada 2022. Pada PISA 2025, tren penurunan itu mulai tertahan. Skor membaca naik enam poin menjadi 365, sains naik enam poin menjadi 389, sedangkan matematika justru turun tipis menjadi 364.
Baca juga: Mengapa Skor PISA Penting bagi Ekonomi Indonesia? Jawabannya Ada di Ruang Kelas
OECD menggunakan patokan kasar bahwa sekitar 20 poin PISA setara dengan satu tahun pembelajaran. Sementara itu, PISA diselenggarakan kira-kira setiap tiga tahun sekali.
Jika melihat skor sains, selisih Indonesia dengan Vietnam mencapai 68 poin. Apabila skor sains Indonesia terus naik enam poin setiap tiga tahun, sementara Vietnam tidak mengalami perubahan skor, Indonesia baru bisa menyusul sekitar 34 tahun lagi. Artinya, anak yang sekarang duduk di kelas 1 SD mungkin sudah berusia 40-an tahun ketika hal itu terjadi.
Untuk matematika, situasinya bahkan lebih menantang. Skor Indonesia justru mengalami penurunan, dan Indonesia kini berada di urutan terakhir dari delapan negara ASEAN peserta PISA. Selisih skor tersebut setara dengan sekitar dua tahun pembelajaran dibandingkan Thailand, empat tahun dibandingkan Vietnam, dan hampir 10 tahun dibandingkan Singapura.
Namun, angka dalam satuan “tahun” ini hanya analogi, bukan vonis. Anak Indonesia bukan berarti lebih bodoh. Perbedaan skor tersebut mencerminkan akumulasi berbagai faktor, mulai dari kualitas pengajaran, kesiapan guru, hingga kesempatan belajar yang diperoleh anak sejak usia dini.

PISA tidak sekadar menguji kemampuan menghafal rumus, tetapi juga mengukur penalaran, seperti kemampuan memodelkan masalah dan menerapkan konsep dalam situasi nyata. Artinya, menghafal rumus saja belum cukup untuk menghadapi soal-soal PISA. Sementara itu, proses pembelajaran kita masih banyak bertumpu pada hafalan.
Padahal, kemampuan bernalar secara matematis sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pemilik usaha kecil menggunakannya untuk menghitung margin keuntungan. Karyawan memerlukannya untuk membaca data penjualan. Keluarga juga mengandalkannya saat mengatur dan mempertimbangkan pengeluaran. Di era AI, kemampuan ini semakin penting karena pekerjaan yang hanya mengandalkan hafalan menjadi lebih mudah digantikan mesin, yang bisa mengerjakannya dengan lebih baik.
Di sinilah literasi berperan sebagai pintu masuk. Hanya sekitar 27% siswa Indonesia yang mencapai kemampuan membaca minimum, jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 69%. Hampir tidak ada siswa kita yang mampu membedakan fakta dan opini dalam teks panjang atau menilai keandalan sebuah sumber.
Kedua kemampuan ini saling berkaitan. Anak yang belum mampu memahami soal cerita dengan baik akan lebih kesulitan menggunakan penalaran untuk menyelesaikan persoalan matematika.
Kesimpulannya cukup jelas. Indonesia baru berada pada tahap menghentikan penurunan. Untuk mulai mengejar ketertinggalan, kita membutuhkan kecepatan peningkatan yang jauh berbeda. Kecepatan ini tidak bisa dicapai tanpa reformasi dan langkah yang lebih agresif di bidang pendidikan.
Namun, lompatan besar tidak muncul begitu saja. Semuanya berawal dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari.
Di rumah, biasakan anak membaca dan berhitung. Ajak Ananda membaca bersama selama 15–20 menit setiap hari, lalu tanyakan, “Apa yang kamu baca tadi?” Libatkan juga anak dalam kegiatan sederhana, seperti menghitung diskon saat berbelanja atau menyusun anggaran uang jajan. Jadikan berhitung sebagai bagian dari keseharian, tanpa selalu mengandalkan kalkulator atau AI.
Di kelas, latih anak memahami dan memecahkan masalah. Sisipkan waktu membaca dalam semua mata pelajaran, gunakan soal yang berkaitan dengan kasus nyata, dan biasakan guru memberikan umpan balik yang mendorong proses berpikir. Misalnya, dengan bertanya, “Mengapa jawabanmu masuk akal?” Kebiasaan ini membantu siswa belajar bernalar, bukan sekadar mencari jawaban yang benar.
Di sekolah, dampingi siswa sesuai kebutuhannya. Berikan perhatian khusus kepada siswa yang kemampuannya masih di bawah batas minimum, terutama dalam matematika dan numerasi. Langkah ini bisa dilakukan melalui asesmen diagnostik dan pendampingan rutin. Jika diperlukan, sekolah juga dapat menyediakan jam tambahan untuk memperkuat kemampuan dasar sekaligus membantu siswa mengejar ketertinggalan.
Di Prestasi Global, kami membiasakan Ananda untuk bertanya, “Mengapa?” dan “Apa buktinya?” dalam setiap pelajaran. Bertanya menjadi hal yang lumrah sekaligus memantik rasa ingin tahu. Bagi kami, kualitas pertanyaan seorang anak merupakan salah satu tolok ukur sederhana untuk melihat kualitas penalarannya. Kemampuan tersebut sangat ditentukan oleh kapasitas guru dalam mendampingi proses belajar di kelas.
Hitung mundur 34 tahun itu bukan sesuatu yang mustahil untuk dipersingkat. Caranya dimulai dari kebiasaan sehari-hari, baik di rumah maupun di kelas, dengan melatih anak membaca bacaan berkualitas dan memahami dunia melalui apa yang mereka baca.
Artinya, kita perlu berinvestasi pada buku-buku yang baik. Bukan hanya untuk anak, tetapi juga untuk kita sebagai orang dewasa. Sebab, kebiasaan membaca akan lebih mudah tumbuh ketika anak melihat orang-orang di sekitarnya melakukan hal yang sama.
A lifelong learner. Running, exploring, and iterating everyday. Write and documenting my journey to become more mindful and active in life.