Ledakan AI Bikin Data Center Menjamur, Mengapa Indonesia Mulai Soroti Dampak Lingkungannya?

Gedung data center Meta di Mansfield AS | Foto: Dok. Grant Blankenship / Georgia Public Broadcasting

PresGoNews.com, Jakarta – Perkembangan artificial intelligence (AI) ternyata bukan cuma soal chatbot, aplikasi pintar, atau teknologi yang makin canggih. Di balik semua itu, ada kebutuhan infrastruktur besar berupa data center yang menjadi tempat berbagai sistem AI bekerja. Ketika jumlah data center terus bertambah, kebutuhan listrik, air, lahan, hingga pengelolaan lingkungan ikut menjadi perhatian.

Salah satu yang tengah disorot adalah pembangunan data center AI di Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat. Proyek yang dikembangkan BDx Data Centers tersebut mendapat perhatian setelah Pemerintah Provinsi Jawa Barat meminta pembangunan dihentikan sementara karena persoalan dokumen lingkungan dan perizinan.

Baca juga: Meta Memperkenalkan Muse Charm Sebagai AI Pribadi Seukuran Tamagotchi, Bisa Diajak Bicara Tanpa Buka HP

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan proyek tersebut belum mengantongi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG). Karena itu, pembangunan diminta tidak dilanjutkan sebelum seluruh persyaratan dipenuhi.

“PBG dan AMDAL belum keluar. Jangan dulu berjalan proyeknya. Berhentikan dulu pembangunannya,” ujar Dedi dalam keterangan resmi Pemprov Jawa Barat pada, Rabu (30/9).

Selain dokumen perizinan, pemerintah juga menyoroti potensi dampak pembangunan terhadap lingkungan sekitar. Penggunaan air dari Waduk Jatiluhur menjadi salah satu hal yang perlu dikaji, terutama agar kebutuhan operasional data center tidak mengganggu kebutuhan air masyarakat dan sektor pertanian.

Kebutuhan listrik data center makin besar

Sorotan terhadap proyek Jatiluhur semakin menarik karena skala kebutuhan energi data center memang tidak kecil. BDx merancang fasilitas AI Campus 2 di Jatiluhur dengan kapasitas hingga 640 megawatt (MW).

Secara nasional, Kementerian ESDM memproyeksikan kebutuhan listrik sektor data center Indonesia dapat mencapai sekitar 32 gigawatt (GW) pada 2032.

Artinya, semakin pesat perkembangan AI, semakin besar pula infrastruktur yang harus disiapkan untuk menjalankannya.

Baca juga: ChatGPT Work OpenAI Bisa Kerjakan Proyek Berjam-jam, Benarkah Seperti Karyawan Digital?

Kasus Jatiluhur memperlihatkan bahwa perkembangan AI tidak berhenti di layar komputer. Ada server yang membutuhkan listrik, sistem pendingin yang membutuhkan sumber daya, serta fasilitas besar yang membutuhkan lahan dan air.

Karena itu, pertumbuhan data center Indonesia mulai diarahkan tidak hanya pada kapasitas dan investasi, tetapi juga bagaimana pembangunan tersebut memperhatikan dampak lingkungan.

Pada akhirnya, tantangan AI bukan cuma tentang seberapa pintar teknologinya, tetapi juga bagaimana Indonesia menyiapkan infrastruktur digital yang tetap berkelanjutan.

Berita Seimbang, Wawasan Global!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga