Dolar Naik, Turis Asing Makin Semangat Liburan ke Indonesia, Devisa Negara Ikut Melonjak

PresGoNews.com, Jakarta – Menguatnya nilai dolar Amerika Serikat terhadap rupiah ternyata tidak selalu membawa kabar kurang menyenangkan. Di balik tantangan yang muncul pada sektor impor, kondisi ini justru menjadi angin segar bagi industri pariwisata Indonesia.

Saat dolar menguat, wisatawan asing yang membawa mata uang tersebut memiliki daya beli yang lebih besar ketika berlibur di Indonesia. Alhasil, biaya liburan terasa lebih terjangkau dan membuat Indonesia semakin menarik di mata wisatawan mancanegara.

Baca juga: Kemenkeu Sebut Pelemahan Dolar Bukan Cerminan Masalah Ekonomi Indonesia

Fenomena ini mulai terlihat di berbagai destinasi wisata unggulan, terutama Bali yang masih menjadi magnet utama bagi turis asing. Dengan nilai tukar yang lebih menguntungkan, wisatawan bisa menikmati lebih banyak pengalaman selama berlibur, mulai dari menginap di hotel, mencicipi kuliner lokal, berbelanja produk UMKM, hingga mengikuti berbagai aktivitas wisata. Kondisi ini tentu berdampak positif pada perputaran ekonomi di daerah tujuan wisata.

Staf Ahli Gubernur Bali Bidang Perekonomian dan Keuangan, I Wayan Ekadina, mengatakan bahwa penguatan dolar justru memberikan keuntungan bagi sektor pariwisata Bali. Menurutnya, wisatawan asing merasakan biaya liburan yang lebih murah sehingga mendorong peningkatan pengeluaran mereka selama berada di Indonesia.

“Wisatawan asing merasa biaya liburan lebih murah sehingga daya beli mereka meningkat,” ujar I Wayan Ekadina, Selasa (27/5), seperti dikutip dari Balipost.

Daya beli wisatawan asing ikut meningkat

Turis Bali

Dampak positif tersebut tidak hanya dirasakan oleh hotel dan tempat wisata. Pelaku usaha lokal seperti pemilik restoran, pedagang suvenir, penyedia jasa transportasi, hingga pelaku ekonomi kreatif juga ikut merasakan manfaat dari meningkatnya kunjungan wisatawan asing. Semakin banyak turis yang datang dan berbelanja, semakin besar pula perputaran uang yang terjadi di masyarakat.

Pandangan serupa juga disampaikan Ketua Nasional Generasi Pesona Indonesia (GenPI), Siti Chotijah. Ia menilai pelemahan rupiah dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk menarik lebih banyak wisatawan mancanegara karena biaya perjalanan menjadi lebih kompetitif dibandingkan sejumlah negara lain.

“Ketika rupiah melemah, pariwisata bisa tumbuh, atau bahkan meningkat,” kata Siti Chotijah, Selasa (3/6), dalam wawancara yang dipublikasikan Radio Republik Indonesia (RRI).

Baca juga: Dolar Naik? Jangan Salah Kamar: Ini Bukan Tugas Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Ini Peran Bank Indonesia

Dampak akhirnya terlihat pada peningkatan devisa negara dari sektor pariwisata. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan devisa pariwisata Indonesia pada 2025 mencapai US$18,28 miliar atau naik 9,46 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada periode yang sama, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara juga mencapai 15,4 juta orang, meningkat 10,8 persen secara tahunan.

Data tersebut menunjukkan bahwa di tengah fluktuasi nilai tukar global, sektor pariwisata tetap menjadi salah satu mesin penggerak ekonomi nasional. Ketika dolar menguat dan Indonesia menjadi destinasi yang lebih terjangkau, peluang untuk mendatangkan lebih banyak wisatawan sekaligus meningkatkan pemasukan negara pun semakin terbuka lebar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga