PresGoNews.com, Jakarta – Isu soal penutupan program studi yang dianggap tidak relevan sempat bikin suasana dunia kampus jadi agak tegang. Banyak yang langsung kepikiran kalau jurusan-jurusan tertentu bakal “dihapus” begitu saja. Tapi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi akhirnya turun tangan buat meluruskan biar nggak makin liar.
Baca juga: Logo Hardiknas 2026 Resmi Dirilis, Simbol Kolaborasi dan Arah Baru Pendidikan Indonesia
Lewat pernyataan resminya, Kemendiktisaintek menegaskan kalau wacana penutupan prodi itu bukan kebijakan utama. Jadi, bukan berarti pemerintah lagi bersiap melakukan penghapusan besar-besaran. Yang ada justru fokus ke pembenahan dan penyesuaian supaya program studi tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, menjelaskan bahwa evaluasi terhadap prodi memang lagi berjalan. Tapi arahnya bukan buat asal menutup, melainkan memastikan kualitas dan keberlanjutan tiap jurusan tetap terjaga.
“Kami tidak serta-merta menutup program studi. Evaluasi dilakukan untuk memastikan prodi tetap relevan dan memiliki kualitas yang baik. Penutupan adalah opsi terakhir jika memang sudah tidak dapat diperbaiki,” ujarnya pada Senin (28/04).
Penjelasan ini jadi semacam penenang buat mahasiswa dan calon mahasiswa yang sempat overthinking soal masa depan jurusan mereka. Apalagi sebelumnya istilah “tidak relevan” sempat ditafsirkan terlalu sempit, seolah-olah jurusan yang nggak langsung nyambung ke industri bakal terancam hilang.
Kemendiktisaintek juga mengingatkan bahwa peran kampus itu nggak cuma soal nyiapin tenaga kerja, tapi juga menjaga dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Jadi, keputusan apa pun yang diambil tetap mempertimbangkan sisi akademik, bukan cuma kebutuhan pasar.

Dalam pernyataan lanjutan di laman resminya, Kemendiktisaintek menegaskan arah kebijakan yang lebih ke transformasi. “Kami mendorong transformasi program studi melalui pembaruan kurikulum, kolaborasi dengan industri, dan penguatan kompetensi lulusan agar lebih adaptif terhadap perubahan,” tulisnya pada Selasa (29/04).
Artinya, pendekatan yang dipakai sekarang lebih ke upgrade daripada menghapus. Prodi-prodi yang ada didorong buat beradaptasi, misalnya dengan menyesuaikan kurikulum atau memperkuat skill yang dibutuhkan di masa depan, seperti di bidang digital dan sektor strategis lainnya.
Baca juga: Kemendiktisaintek Siap Tutup Prodi Tak Relevan Demi Selaraskan Lulusan dengan Dunia Kerja
Meski begitu, wacana ini tetap menuai perhatian dari berbagai pihak. Ada yang mengingatkan supaya pemerintah nggak gegabah dan tetap pakai kajian matang sebelum mengambil keputusan besar. Karena bagaimanapun juga, dunia pendidikan nggak bisa cuma ikut arus tren sesaat.
Pada akhirnya, klarifikasi ini nunjukin kalau arah kebijakan pendidikan tinggi lagi bergerak ke proses adaptasi, bukan sekadar eliminasi. Dunia kampus tetap didorong buat relevan, tapi tanpa kehilangan perannya sebagai ruang berpikir dan pengembangan ilmu yang lebih luas.