DPR Panggil BGN Karena Pengadaan Motor Listrik Rp42 Juta untuk Kepala SPPG Bikin Sorotan

Klarifikasi Kepala BGN soal Motor Listrik untuk Kepala SPPG | Foto: kompas.com

PresGoNews.com, Jakarta – Komisi IX DPR RI ngumumin bakal manggil Badan Gizi Nasional (BGN) soal heboh pengadaan motor listrik senilai Rp42 juta per unit buat Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Ini jadi langkah pengawasan DPR untuk ngecek langsung soal penggunaan anggaran negara, terutama program pemerintah yang nyentuh publik.

Baca juga: Ekonomi Indonesia Tahan Banting di Tengah Badai Global, Tetap Tumbuh dan Percaya Diri

Wakil Ketua Komisi IX, Charles Honoris, bilang pengadaan motor ini bikin banyak pertanyaan, terutama soal urgensi dan prosedur anggaran. Apalagi sempat ada kabar kalau Kementerian Keuangan (Menkeu) sempet nolak pengadaan ini, tapi tetap jalan.

“Kami bakal manggil BGN buat minta penjelasan resmi soal dasar penganggaran dan urgensinya. Anggaran negara nggak boleh dipake tanpa akuntabilitas yang jelas,” ujar Charles pada, Selasa (8/4).

Polemik ini mulai ramai di medsos setelah video puluhan ribu motor listrik berlogo BGN viral. Banyak yang bingung soal jumlah dan harga unitnya. BGN langsung buka suara, bilang info yang beredar nggak sepenuhnya akurat dan jumlah realisasinya jauh di bawah target awal.

Motor Listrik BGN

Motor dipakai untuk operasional SPPG

Kepala BGN, Dadan Hindayana, ngejelasin motor listrik ini sebenernya dari anggaran 2025, awalnya mau beli 24.400 unit, tapi yang terealisasi sekitar 21.800 unit. Dia juga menekankan harga Rp42 juta per unit justru lebih murah dari pasaran yang bisa sampai Rp50–52 juta. Motor ini ditujukan buat operasional Kepala SPPG supaya bisa nyampe ke wilayah terpencil demi dukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Baca juga: Siswa SMK di Kudus Tolak MBG, Pilih Dana Dialihkan untuk Kesejahteraan Guru

Dadan juga menegaskan, di anggaran 2026, nggak ada rencana beli motor listrik lagi. Sementara itu, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa bilang anggaran motor ini emang dari tahun sebelumnya dan nggak masuk anggaran 2026, tapi prosesnya tetap bikin tanda tanya soal koordinasi antar lembaga.

Intinya, polemik ini nunjukin pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan anggaran publik. Semua pihak yang terkait bakal diminta jelasin langsung biar masyarakat nggak salah paham dan kepercayaan publik tetap terjaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga