PresGoNews.com – Menjelang akhir bulan Ramadan, ada satu momen yang hampir selalu hadir di tengah percakapan keluarga, obrolan di masjid, hingga pengumuman di berbagai platform digital: zakat fitrah. Bagi umat Muslim, kewajiban ini bukan sekadar tradisi tahunan yang dilakukan sebelum Idulfitri tiba. Di balik praktik yang terlihat sederhana, zakat fitrah menyimpan makna spiritual sekaligus sosial yang cukup dalam.
Menariknya, meskipun zakat fitrah sudah dilakukan turun-temurun, masih banyak orang yang bertanya-tanya tentang hal-hal mendasarnya. Mulai dari bagaimana niat zakat fitrah yang benar hingga kapan sebenarnya waktu yang paling tepat untuk menunaikannya.
Baca juga: Sidang Isbat Ditentukan 19 Maret 2026, Umat Islam Bersiap Menyambut Lebaran
Setelah hampir sebulan menjalani puasa dengan segala prosesnya menahan lapar, menjaga ucapan, hingga memperbanyak ibadah zakat fitrah hadir sebagai bagian penutup yang menyempurnakan perjalanan Ramadan. Dalam Islam, zakat fitrah diwajibkan bagi setiap Muslim yang mampu, baik laki-laki maupun perempuan, dewasa maupun anak-anak.
Biasanya kewajiban ini ditunaikan oleh kepala keluarga untuk seluruh anggota keluarga yang menjadi tanggungannya. Di Indonesia sendiri, zakat fitrah umumnya dibayarkan dalam bentuk beras sekitar 2,5 kilogram atau setara kurang lebih 3,5 liter per orang.
Namun maknanya tentu tidak berhenti pada jumlah beras atau nominal yang dikeluarkan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, dijelaskan bahwa zakat fitrah berfungsi sebagai penyucian bagi orang yang berpuasa dari perkataan yang kurang baik maupun kesalahan kecil yang mungkin terjadi selama Ramadan. Di saat yang sama, zakat ini juga menjadi bentuk kepedulian agar mereka yang membutuhkan tetap bisa merasakan kebahagiaan di hari raya.

Seperti ibadah lainnya dalam Islam, niat menjadi bagian penting dalam pelaksanaan zakat fitrah. Secara prinsip, niat sebenarnya cukup hadir di dalam hati ketika seseorang menunaikan ibadah tersebut. Namun dalam praktik sehari-hari, banyak umat Muslim yang tetap melafalkannya secara lisan sebagai bentuk penegasan niat.
Salah satu bacaan niat zakat fitrah yang paling umum digunakan adalah:
“Nawaitu an ukhrija zakat al-fitri ‘an nafsi fardhan lillahi ta‘ala.”
Artinya, “Saya niat mengeluarkan zakat fitrah untuk diri saya sendiri sebagai kewajiban karena Allah Ta’ala.”
Jika zakat fitrah dibayarkan untuk anggota keluarga lain, seperti anak atau pasangan, lafaznya biasanya disesuaikan dengan orang yang diwakili. Meski begitu, yang paling penting sebenarnya bukan pada seberapa fasih seseorang melafalkannya, melainkan kesadaran dalam hati bahwa zakat tersebut ditunaikan sebagai ibadah kepada Allah.
Selain soal niat, hal lain yang sering menjadi pertanyaan adalah kapan waktu yang tepat untuk membayar zakat fitrah. Sebagian orang memilih menunaikannya sejak awal Ramadan, sementara yang lain menunggu hingga mendekati hari raya.
Mayoritas ulama menjelaskan bahwa zakat fitrah sudah boleh dibayarkan sejak awal Ramadan. Namun waktu yang paling utama adalah setelah matahari terbenam pada malam terakhir Ramadan hingga sebelum pelaksanaan salat Idulfitri.
Baca juga: Aturan Digital Jangan Cuma Batasi, Tapi Juga Jaga Mental Remaja
Jika zakat fitrah dibayarkan setelah salat Idulfitri selesai, maka statusnya tidak lagi dianggap sebagai zakat fitrah, melainkan sedekah biasa. Karena itu, banyak masjid maupun lembaga zakat biasanya mulai membuka penerimaan zakat beberapa hari sebelum Idulfitri agar proses penyalurannya bisa dilakukan tepat waktu.
Pada akhirnya, zakat fitrah bukan sekadar kewajiban yang harus diselesaikan sebelum hari raya tiba. Ia menjadi pengingat sederhana bahwa kebahagiaan Idulfitri idealnya dirasakan bersama. Ketika sebagian orang bisa merayakan kemenangan setelah Ramadan dengan penuh suka cita, zakat fitrah memastikan bahwa mereka yang kurang beruntung juga tetap memiliki ruang untuk merasakan kebahagiaan yang sama