PresGoNews.com – Ketika Disney resmi mengumumkan proyek live-action dari Moana, publik langsung bereaksi. Ada yang antusias karena ingin melihat kisah favorit mereka hadir dalam versi nyata, tapi tidak sedikit juga yang mempertanyakan keputusan ini. Apalagi, film aslinya yang rilis tahun 2016 masih terasa “segar” dan relevan hingga sekarang.
Moana dikenal sebagai film yang hangat, penuh warna, dan sarat makna tentang keberanian serta jati diri. Namun ketika versi live-action mulai diperlihatkan ke publik melalui trailer, muncul fenomena yang cukup menarik: ekspektasi tinggi berubah menjadi perdebatan panjang.
Baca juga: Pelangi di Mars: Ketika Imajinasi Anak Bangsa Menembus Batas Antariksa
Salah satu daya tarik utama film ini tentu saja keterlibatan Dwayne Johnson yang kembali memerankan Maui. Secara konsep, ini adalah keputusan yang masuk akal. Ia bukan hanya pengisi suara Maui di versi animasi, tetapi juga memiliki latar belakang budaya Polinesia yang relevan dengan cerita.
Namun, realitas di lapangan tidak sepenuhnya berjalan mulus. Setelah trailer dirilis, banyak penonton justru mengkritik penampilan Maui versi live-action. Penggunaan wig dan kostum dianggap kurang natural, bahkan oleh sebagian orang terlihat seperti “cosplay” daripada karakter film besar. Alih-alih terasa epik, beberapa penonton merasa visualnya justru mengganggu pengalaman menonton.
Kritik ini bukan tanpa alasan. Karakter Maui di animasi memang didesain sangat stylized dengan proporsi tubuh dan ekspresi yang sulit diterjemahkan ke dunia nyata. Ketika dipaksakan ke bentuk live-action, hasilnya terasa “aneh” bagi sebagian penonton. Di sinilah dilema besar muncul: setia pada versi animasi, atau menyesuaikan dengan realisme?

Selain kontroversi soal karakter Maui, hal lain yang ramai dibicarakan adalah nuansa trailer yang terasa berbeda dari versi animasinya. Banyak penonton mengungkapkan bahwa Moana live-action justru memiliki aura yang lebih gelap, bahkan terkesan “sedikit seram”.
Jika dibandingkan dengan versi animasi yang cerah, penuh warna tropis, dan nuansa petualangan yang ringan, trailer live-action ini menghadirkan atmosfer yang lebih dramatis. Pencahayaan yang lebih redup, tone warna yang cenderung dingin, serta penggunaan efek visual tertentu membuat beberapa adegan terasa lebih intens.
Di media sosial, muncul berbagai komentar seperti:
Fenomena ini sebenarnya bisa dipahami. Format live-action sering kali membawa pendekatan visual yang lebih realistis, sehingga otomatis mengurangi kesan kartunis dan ceria. Namun bagi penggemar lama, perubahan ini terasa cukup signifikan dan memengaruhi “rasa” dari cerita Moana itu sendiri.
Di tengah pro dan kontra yang berkembang, satu hal yang tetap menjadi sorotan adalah bagaimana film ini akan merepresentasikan budaya Polinesia. Moana bukan sekadar film petualangan biasa, tetapi juga simbol identitas budaya yang penting.
Disney berusaha menjaga autentisitas dengan melibatkan talenta yang sesuai secara budaya, terutama untuk karakter utama Moana. Namun, publik tetap mengawasi dengan ketat, memastikan bahwa elemen budaya tidak hanya dijadikan estetika, tetapi benar-benar dihormati.
Moana live-action saat ini berada di posisi yang cukup rumit. Di satu sisi, ia membawa nama besar dan basis penggemar yang kuat. Di sisi lain, ia juga harus menghadapi ekspektasi yang sangat tinggi bahkan mungkin terlalu tinggi.
Kontroversi seputar penampilan Maui dan nuansa trailer yang terasa lebih gelap menunjukkan bahwa proses adaptasi dari animasi ke live-action bukan hal yang sederhana. Ada banyak aspek yang harus diseimbangkan: visual, emosi, hingga identitas cerita itu sendiri.
Pada akhirnya, film ini bukan hanya tentang menghadirkan kembali kisah lama, tetapi juga tentang bagaimana sebuah cerita ikonik bisa beradaptasi di era baru. Apakah Moana live-action akan menjadi sukses besar atau justru mengecewakan, semuanya akan terjawab saat film ini benar-benar tayang.