PresGoNews.com, Jakarta – Tepung Singkong kini ikut menjadi perhatian dalam upaya mencari cara baru untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut pati singkong punya dasar ilmiah untuk dikembangkan sebagai bahan pendukung pemadaman api. Meski begitu, teknologi ini masih membutuhkan pengujian lebih lanjut sebelum bisa diterapkan secara luas.
Baca juga: Kontroversi Pembasmian Ikan Sapu-Sapu: Ancaman Nyata Ekosistem, Cara Penanganan Jadi Sorotan Publik
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan penggunaan singkong sebagai bahan pemadam secara teori memungkinkan. BRIN saat ini masih mengkaji formulasi serta komponen yang paling tepat agar teknologi tersebut dapat bekerja secara optimal.
“Secara teori memungkinkan,” ujar Arif Satria pada, Kamis (27/8).

Penggunaan Tepung Singkong dalam pemadaman karhutla bukan sekadar menaburkan tepung kering ke sumber api. BRIN mengembangkan pati singkong yang telah dimodifikasi dan dikombinasikan dengan air, wetting agent, serta ammonium polyphosphate (APP).
Periset Kimia Molekuler BRIN Julinton menjelaskan, kombinasi tersebut dirancang agar cairan bisa lebih lama bertahan pada vegetasi sekaligus membantu memperlambat penyebaran api. Pati singkong berperan meningkatkan daya lekat, sedangkan wetting agent membantu cairan menyebar dan masuk ke bahan bakar vegetasi.
Sementara itu, APP membantu proses retardasi kimia ketika material terkena panas. Formulasi tersebut juga dapat mendorong pembentukan lapisan char yang membantu menghambat perpindahan panas.
Meski memiliki potensi, BRIN belum menyebut Tepung Singkong sebagai pengganti metode pemadaman yang sudah digunakan saat ini. Teknologi tersebut lebih diarahkan sebagai pendukung, terutama untuk respons awal, memperlambat penyebaran api, serta menangani titik-titik api.
Baca juga: Kebakaran Kalimantan Meluas, Pemerintah Perkuat Pemadaman Darat dan Udara
BRIN juga masih menguji aspek keamanan dan dampak lingkungan, termasuk biodegradabilitas, pengaruh terhadap tanaman serta organisme tanah dan air, hingga residu yang dihasilkan.
Karena itu, penggunaan Tepung Singkong untuk karhutla saat ini masih berada dalam tahap pengembangan. Jika hasil pengujian menunjukkan efektivitas dan keamanan yang baik, teknologi tersebut berpeluang menjadi salah satu alternatif dalam memperkuat penanganan karhutla di Indonesia.