Kontroversi Pembasmian Ikan Sapu-Sapu: Ancaman Nyata Ekosistem, Cara Penanganan Jadi Sorotan Publik

PresGoNews.com, Jakarta – Isu pembasmian ikan sapu-sapu lagi ramai dibahas, bukan cuma soal lingkungan tapi juga soal cara penanganannya. Perhatian publik makin tersedot setelah muncul praktik pemusnahan dengan cara dikubur dalam kondisi masih hidup. Di satu sisi, langkah ini dianggap perlu untuk menjaga ekosistem, tapi di sisi lain banyak yang mempertanyakan, apakah cara seperti itu masih bisa dibenarkan secara etika.

Baca juga: Utang Luar Negeri RI Tembus Rp7.488 Triliun per Februari 2026, Masih Aman?

Kalau dilihat dari sisi ilmiah, ikan sapu-sapu memang bukan sekadar “ikan pengganggu biasa”. Ikan ini termasuk spesies invasif yang bukan berasal dari Indonesia, tapi bisa berkembang sangat cepat di perairan lokal. Kemampuannya bertahan di air kotor, ditambah reproduksi yang masif, bikin populasinya susah dikontrol dan berpotensi menguasai habitat.

Penjelasan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN juga menegaskan dampaknya tidak main-main. Dalam keterangan resminya disebutkan, “Ikan sapu-sapu termasuk spesies invasif yang dapat merusak ekosistem perairan, mengganggu populasi ikan lokal, serta menyebabkan kerusakan fisik pada habitat sungai,” ujar pihak BRIN pada, Selasa (15/10). Pernyataan ini memperjelas bahwa masalahnya bukan cuma soal jumlah ikan, tapi juga efek domino terhadap lingkungan.

Kerusakan yang ditimbulkan pun cukup kompleks. Ikan sapu-sapu dikenal bisa melubangi tebing sungai, yang lama-lama memicu erosi. Selain itu, dominasi mereka di perairan bikin ikan lokal kalah saing, bahkan terancam hilang. Dampaknya bukan cuma ke alam, tapi juga ke nelayan yang menggantungkan hidup dari hasil tangkapan.

Penguburan Ikan Sapu-sapu

Metode pembasmian dinilai terlalu ekstrem 

Meski begitu, metode pembasmian tetap jadi sorotan utama. Banyak yang setuju ikan ini harus dikendalikan, tapi tidak sedikit juga yang merasa cara seperti mengubur hidup-hidup terlalu ekstrem. Di sinilah perdebatan mulai muncul, antara kebutuhan menjaga ekosistem dan tuntutan untuk tetap memperhatikan kesejahteraan hewan.

Baca juga: Prancis Tinggalkan Windows dan Beralih ke Linux demi Kedaulatan Digital

Kalau dibandingkan dengan ikan invasif lain seperti ikan red devil, ancamannya sebenarnya beda karakter. Red devil dikenal sebagai predator agresif yang langsung memangsa ikan lain, sementara sapu-sapu lebih “diam-diam menghancurkan” lewat dominasi populasi dan kerusakan habitat. Dua-duanya sama-sama berbahaya, hanya cara kerjanya yang berbeda.

Akhirnya, kasus ini jadi pengingat bahwa persoalan lingkungan tidak selalu hitam putih. Pengendalian tetap penting, tapi cara yang digunakan juga perlu dipikirkan matang. Karena di era sekarang, menjaga keseimbangan alam juga harus berjalan seiring dengan nilai kemanusiaan yang terus berkembang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga