PresGoNews.com, Jakarta – Situasi di Selat Hormuz lagi jadi sorotan dunia. Di tengah panasnya konflik global 2026, Iran ternyata nggak benar-benar menutup jalur vital ini. Tapi, mereka bikin aturan main baru yang cukup bikin banyak negara mikir ulang. Jalur yang biasanya bebas dilalui kapal tanker minyak ini sekarang jadi lebih “eksklusif”, karena hanya negara tertentu yang diizinkan melintas.
Baca juga: Iran Bidik Teknologi Barat, Starlink Ikut Terseret di Tengah Konflik yang Memanas
Langkah ini langsung berpengaruh besar ke distribusi energi dunia. Soalnya, Selat Hormuz adalah jalur penting yang dilalui sebagian besar pasokan minyak global. Ketika aksesnya dibatasi, efeknya langsung terasa ke banyak negara.
Iran sendiri menegaskan bahwa mereka tidak melakukan penutupan total, melainkan pengawasan ketat terhadap kapal yang lewat. Dalam pernyataan yang dikutip media internasional, kebijakan ini lebih mengarah pada pembatasan terhadap negara yang dianggap tidak sejalan secara politik.
“Iran menargetkan kapal yang memiliki keterkaitan dengan negara Barat, namun tidak melakukan penutupan penuh terhadap Selat Hormuz,” Rabu (5/3).
Di sisi lain, negara-negara yang punya hubungan baik dengan Iran justru mendapat prioritas. Seperti China, Russia, India, Iraq, dan Pakistan yang disebut sebagai kelompok utama yang “aman” untuk melintas. Bahkan beberapa negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, dan Philippines juga berhasil masuk daftar setelah melakukan negosiasi.
Kebijakan ini menunjukkan bahwa akses ke Selat Hormuz sekarang bukan cuma soal jalur perdagangan, tapi juga soal hubungan diplomatik. Iran membuka peluang, tapi tetap dengan syarat dan kontrol ketat.
“Iran mengizinkan kapal yang membawa barang penting dan berasal dari negara tertentu untuk melewati Selat Hormuz,” Jumat (4/4).

Menariknya, ada juga beberapa kapal dari negara lain yang tetap bisa lewat meski tidak masuk daftar utama. Negara seperti Japan, Oman, France, Greece, dan Turkey tercatat berhasil melintas, tentu dengan kondisi tertentu dan koordinasi khusus.
Hal ini memperlihatkan bahwa kebijakan Iran cukup fleksibel. Nggak sepenuhnya kaku, tapi juga nggak bebas. Semua tergantung situasi politik, kepentingan, dan komunikasi antar negara.
“Kapal dari beberapa negara tetap dapat melintas setelah koordinasi dengan otoritas Iran,” Kamis (3/4).
Dengan strategi ini, Iran seperti sedang memainkan peran besar di panggung geopolitik global. Selat Hormuz dijadikan alat kontrol yang efektif, tanpa harus benar-benar menutupnya dan memicu krisis lebih besar.
Baca juga: Iran Dipastikan Tetap Main di Piala Dunia 2026, FIFA Tegas Tak Ada Perubahan
Dampaknya mulai terasa, terutama pada harga minyak dan jalur distribusi energi dunia. Negara yang tidak mendapat akses harus mencari alternatif yang lebih mahal dan berisiko. Sementara itu, negara yang “direstui” justru punya keuntungan lebih besar dalam menjaga stabilitas energi mereka.
“Langkah Iran mencerminkan upaya mempertahankan leverage geopolitik tanpa sepenuhnya mengganggu pasar global,” Senin (7/4).
Sekarang, Selat Hormuz bukan cuma jalur laut biasa. Ia sudah berubah jadi simbol kekuatan, strategi, dan tarik-menarik kepentingan global yang makin kompleks.