Dampak Abu Gunung Anak Krakatau Meluas, Ribuan Penerbangan hingga Aktivitas Warga Terganggu

Erupsi Gunung Anak Krakatau | Foto: CNBC Indonesia

PresGoNews.com, Jakarta – Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau masih menjadi perhatian hingga Selasa, 8 September 2026. Meski aktivitas erupsi menerus mulai mereda, sebaran abu vulkanik sebelumnya sudah telanjur memengaruhi berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari perjalanan udara, kegiatan sekolah, hingga kondisi kesehatan warga di sejumlah wilayah.

Sebaran abu dari Gunung Anak Krakatau bahkan menjangkau wilayah yang cukup luas. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG mencatat abu vulkanik bergerak ke sejumlah arah dengan ketinggian yang berbeda, mengikuti kondisi angin di atmosfer.

Baca juga: Tragedi Longsor Bantar Gebang 8 Maret 2026 Menjadi Alarm Serius Pengelolaan Sampah Kota

“Pembaruan SIGMET terkini mencatat sebaran debu bergerak hingga ketinggian 20.000 kaki ke arah timur serta ketinggian 50.000 kaki ke arah barat,” kata Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani, Minggu (6/9).

Kondisi tersebut membuat sektor penerbangan menjadi salah satu yang paling terdampak. Hingga Senin (7/9), Kementerian Perhubungan mencatat erupsi Gunung Anak Krakatau telah mengganggu 2.961 penerbangan domestik dan internasional. Ribuan jadwal perjalanan pun mengalami penyesuaian karena sejumlah bandara sempat menghentikan operasional demi memastikan keselamatan penerbangan.

Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa

Gung Anak Krakatau
Lokasi Gunung Anak Krakatau | Foto: The Conversation

Selain perjalanan udara, paparan abu vulkanik juga menjadi perhatian serius bagi kesehatan masyarakat. Kementerian Kesehatan mengingatkan warga di wilayah terdampak agar tidak terlalu lama beraktivitas di luar rumah, terutama bagi kelompok yang lebih rentan.

“Kalau tidak ada kegiatan mendesak, usahakan tetap di dalam rumah. Namun, jika harus keluar, pastikan selalu menggunakan masker dan kacamata,” ujar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Minggu (6/9).

Baca juga: Tragedi di Gunung Ungaran Bayi 1,5 Tahun Meninggal Usai Alami Hipotermia Saat Pendakian

Hingga kini, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih terus dipantau. Meski situasi mulai menunjukkan perbaikan di beberapa wilayah, masyarakat tetap diminta mengikuti informasi resmi karena arah angin dan sebaran abu dapat berubah sewaktu-waktu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga