PresGoNews.com, Jakarta – Perkembangan teknologi energi lagi-lagi bikin dunia geleng kepala. Kali ini datang dari China lewat proyek “matahari buatan” mereka yang berhasil menembus batas yang selama ini dianggap mustahil dalam dunia sains. Kedengarannya memang seperti cerita film, tapi ini nyata dan sedang terjadi.
Reaktor yang jadi sorotan adalah EAST, sebuah fasilitas canggih yang dirancang untuk meniru cara matahari menghasilkan energi lewat fusi nuklir. Dalam eksperimen terbaru, para ilmuwan berhasil mencapai sesuatu yang selama puluhan tahun jadi “tembok besar” dalam penelitian fusi.
Baca juga: Indonesia dan Jepang Bersatu untuk Selamatkan Satwa Liar: MoU Konservasi Resmi Ditandatangani
Selama ini, ada batas yang dikenal sebagai Greenwald limit, yaitu ambang maksimal kepadatan plasma di dalam reaktor. Kalau lewat dari batas ini, biasanya sistem jadi tidak stabil dan eksperimen gagal. Tapi yang terjadi di EAST justru kebalikannya.

Para peneliti berhasil melampaui batas tersebut tanpa kehilangan kendali. Dalam laporan ilmiah disebutkan, “Researchers using China’s ‘artificial sun’ fusion reactor have broken through a long-standing density barrier in fusion plasma,” tulis laporan pada, Sabtu (4/1). Pencapaian ini jadi momen penting karena untuk pertama kalinya, batas yang selama ini dianggap “pakem” berhasil ditembus.
Menariknya lagi, kondisi ini disebut sebagai density-free regime, di mana plasma tetap stabil meskipun berada di tingkat kepadatan ekstrem. Para ilmuwan menjelaskan, “Scientists… reached a long-theorized ‘density-free regime’… plasma remains stable even at extreme densities,” ujar para ilmuan pada, Rabu (1/1). Artinya, teori lama yang selama ini jadi acuan mulai berubah, dan pintu menuju eksperimen yang lebih maju mulai terbuka.
Kalau ditarik ke belakang, EAST memang sudah beberapa kali bikin gebrakan. Salah satunya saat berhasil mempertahankan suhu plasma super panas dalam waktu lama, yang jadi langkah penting menuju reaktor fusi yang benar-benar bisa dipakai. Dari Chinese Academy of Sciences sendiri pernah dijelaskan, “The duration of 1,000 seconds is considered a key step in fusion research,” ujarnya pada, Selasa (21/1/2025). Mereka juga menegaskan tujuan besarnya, “The ultimate goal… is to create nuclear fusion like the sun… providing… endless, clean energy,” tambahnya.
Kalau semua ini berhasil dikembangkan sampai tahap komersial, dampaknya bakal gila besar. Energi dari fusi dikenal jauh lebih bersih dan aman dibandingkan fisi nuklir yang dipakai sekarang. Bahan bakarnya melimpah, limbahnya minim, dan potensinya hampir tidak terbatas.
Meski begitu, ini bukan berarti kita bakal langsung pakai “matahari buatan” dalam waktu dekat. Teknologinya masih dalam tahap eksperimen dan butuh waktu panjang sebelum benar-benar siap digunakan secara luas. Tapi satu hal yang jelas, batas yang dulu dianggap mustahil sekarang mulai runtuh. Dan dari situ, masa depan energi pelan-pelan mulai kelihatan bentuknya.