PresGoNews.com – Fenomena anak yang merasa down dan enggan melangkah maju makin sering ditemui di kehidupan keluarga saat ini. Sekilas mungkin terlihat biasa saja, karena banyak anak memilih diam dan tidak banyak bicara. Tapi kalau dilihat lebih dalam, kondisi ini bisa jadi tanda ada sesuatu yang sedang mereka pendam. Dalam kajian psikologi perkembangan anak, sikap menarik diri seperti ini sering berkaitan dengan tekanan emosional yang belum tersampaikan.
Banyak faktor yang bisa jadi pemicu. Mulai dari tuntutan akademik, rasa takut gagal, sampai kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Di beberapa kasus, anak juga bisa mengalami gejala ringan seperti anxiety atau kelelahan mental yang bikin mereka kehilangan semangat. Di titik ini, pendekatan orang tua yang terlalu menekan justru bisa bikin keadaan makin berat.
Makanya, cara parenting sekarang perlu lebih adaptif. Bukan lagi soal menyuruh atau menuntut, tapi lebih ke memahami. Komunikasi yang hangat dan terbuka jadi kunci utama. Anak perlu merasa aman untuk cerita tanpa takut dihakimi. Pendekatan ini sejalan dengan konsep secure attachment, di mana hubungan emosional yang kuat bikin anak merasa didukung sepenuhnya.

Selain itu, penting juga untuk mulai mengubah fokus dari hasil ke proses. Anak yang lagi down biasanya sudah terlalu keras ke dirinya sendiri. Jadi, apresiasi hal-hal kecil yang mereka lakukan bisa jadi langkah awal buat bangun lagi rasa percaya diri. Ini juga sejalan dengan konsep growth mindset, yang menekankan bahwa kemampuan bisa berkembang seiring usaha.
Baca juga: Aturan Digital Jangan Cuma Batasi, Tapi Juga Jaga Mental Remaja
Di sisi lain, orang tua tetap harus peka. Kalau perubahan sikap anak terasa ekstrem dan berlangsung lama, seperti kehilangan minat atau makin menutup diri, bantuan profesional bisa jadi solusi yang tepat.
Pada akhirnya, menghadapi anak yang sedang down bukan soal mendorong lebih keras, tapi hadir lebih dekat. Dengan pendekatan yang tepat, anak bisa perlahan bangkit dan menemukan kembali motivasinya.