PresGoNews.com, Jakarta – Pemerintah Indonesia mulai menyiapkan penggunaan Etanol sebagai campuran bensin hingga mencapai kadar 50 persen atau E50. Meski begitu, masyarakat belum perlu khawatir karena penerapannya tidak dilakukan secara langsung. Pemerintah akan menaikkan kadar campuran Etanol secara bertahap sesuai kesiapan produksi dan industri dalam negeri.
Baca juga: Benwit Karya ITS Ubah Sawit Jadi Bensin, Solusi Nyata Kurangi Ketergantungan BBM Fosil
Rencana tersebut mencuat setelah Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan untuk menyiapkan E50 dalam Sidang Dewan Energi Nasional (DEN). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut langkah ini menjadi bagian dari strategi mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap BBM impor.
“Kita akan mulai menyiapkan roadmap untuk E50,” ujar Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pada, Kamis (17/9), seperti dikutip dari laman resmi Kementerian ESDM.

Sebelum menuju E50, pemerintah lebih dulu menyiapkan tahapan campuran Etanol yang lebih rendah. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyampaikan target produksi E20 dalam dua tahun, dengan pengembangan bahan baku seperti tebu sebagai salah satu fokus utama.
“Dua tahun mendatang kita sudah bisa produksi paling kurang E20,” ujar Zulkifli Hasan pada, Rabu (16/9), berdasarkan keterangan resmi Sekretariat Negara.
Kementerian ESDM memperkirakan program E20 membutuhkan sekitar 4 juta kiloliter Etanol. Kebutuhan tersebut akan didukung dari pengembangan bahan baku dalam negeri, termasuk tebu, singkong, dan jagung.
Penggunaan Etanol ini bukan sekadar mengubah komposisi bensin. Pemerintah menargetkan program tersebut bisa menekan kebutuhan impor BBM sekaligus membuka peluang pemanfaatan hasil pertanian Indonesia.
Dengan begitu, E50 masih menjadi target lanjutan. Pemerintah perlu memastikan produksi Etanol mencukupi, industri siap, dan seluruh tahapan teknis berjalan sebelum kadar campuran dinaikkan hingga 50 persen.