PresGoNews.com, Jakarta – Situasi geopolitik lagi panas-panasnya, dan nama Donald Trump kembali jadi pusat perhatian. Kali ini, ia menyampaikan rencana yang cukup berani: mengakhiri perang dengan Iran dalam waktu singkat, tanpa harus memastikan Selat Hormuz dibuka terlebih dulu. Pernyataan ini langsung bikin banyak pihak kaget, karena biasanya jalur tersebut dianggap kunci utama dalam konflik ini.
Trump menyebut perang ini bisa selesai dalam waktu cepat. “Perang ini bisa berakhir dalam dua hingga tiga minggu,” tulis Reuters mengutip pernyataannya pada, Senin (31/3). Gaya penyampaian yang to the point ini memang khas Trump, tapi tetap saja bikin banyak analis bertanya-tanya, apakah ini realistis atau sekadar strategi politik.
Yang bikin makin menarik, Trump justru tidak menjadikan pembukaan Selat Hormuz sebagai prioritas utama. Ia siap mengakhiri perang meskipun jalur vital itu belum kembali normal. Pernyataan ini muncul langsung memicu reaksi pasar yang sempat naik karena ada harapan konflik segera selesai.
Dalam wawancara dengan New York Post, Trump bahkan terdengar cukup santai soal dampaknya. “Selat itu akan terbuka secara otomatis setelah kami keluar,” ujarnya pada, Selasa (31/3). Pernyataan ini terkesan sederhana, tapi di balik itu ada banyak risiko yang bikin para pengamat angkat alis.

Masalahnya, Selat Hormuz bukan jalur biasa. Sekitar 20% distribusi minyak dunia lewat sini, jadi kalau belum benar-benar aman, dampaknya bisa ke mana-mana. Harga energi bisa naik, distribusi terganggu, dan efeknya terasa sampai ke ekonomi global.
Ketidak sejalan arah kebijakan Amerika Serikat soal Hormuz justru menambah ketegangan. Banyak negara juga belum sepenuhnya sepakat dengan langkah yang diambil, jadi situasinya makin kompleks.
Yang bikin suasana makin ramai, pernyataan Trump terkesan berubah-ubah. Dalam laporan Reuters sebelumnya, ia sempat memberi peringatan keras ke Iran. “Iran harus membuka Selat Hormuz atau menghadapi konsekuensi,” tulis Reuters.
Namun tidak lama setelah itu, arah pernyataannya berubah jadi lebih fokus ke penghentian perang secara cepat tanpa menyinggung pembukaan selat sebagai prioritas. Perbedaan ini bikin banyak pihak menilai strateginya masih belum solid dan cenderung fleksibel tergantung situasi.
Baca juga: Prabowo Bertemu Kaisar Naruhito di Jepang, Perkuat Kerja Sama Strategis di Tengah Dinamika Global
Langkah Donald Trump ini memang terdengar seperti solusi instan di tengah konflik yang berlarut. Tapi di sisi lain, keputusan untuk tidak menjadikan Selat Hormuz sebagai fokus utama bisa jadi bumerang kalau krisis energi terus berlanjut.
Sekarang, dunia lagi sama-sama menunggu. Apakah strategi cepat ini benar-benar bisa meredakan konflik, atau justru membuka masalah baru yang efeknya lebih luas? Yang jelas, situasinya masih jauh dari kata selesai.