Aturan Digital Jangan Cuma Batasi, Tapi Juga Jaga Mental Remaja

PresGoNews.com, Jakarta – Pembahasan soal aturan baru perlindungan anak di ruang digital makin serius. Tapi para pakar mengingatkan, jangan sampai regulasi ini cuma fokus pada pembatasan akses. Keamanan memang penting, tapi kesehatan mental remaja juga nggak kalah krusial.

Dalam peringatan Hari Kesehatan Mental Remaja, psikolog anak dan remaja Dr. Rose Mini Agoes Salim menegaskan bahwa pendekatan terhadap dunia digital harus lebih bijak. Ia menyampaikan bahwa remaja sedang berada di fase penting pencarian jati diri, dan ruang digital sering kali jadi tempat mereka berekspresi sekaligus membangun relasi sosial.

“Anak dan remaja berada pada fase perkembangan identitas. Ruang digital sering menjadi medium eksplorasi diri dan koneksi sosial. Regulasi perlu melindungi, tetapi juga tidak boleh menghilangkan ruang tumbuh tersebut,” ujarnya pada Selasa (2/3).

Pernyataan ini menyoroti satu hal penting: kalau aturan terlalu ketat tanpa mempertimbangkan aspek psikologis, remaja bisa merasa terisolasi. Alih-alih merasa aman, mereka justru berpotensi mengalami kecemasan, tekanan sosial, bahkan rasa tidak dipercaya.

Baca juga: Teknik Menulis yang Membuat Pembaca Ketagihan Halaman Demi Halaman

Pembatasan Tanpa Pendekatan Psikologis Bisa Memicu Rasa Terisolasi

Menurut para ahli, dunia online bagi remaja bukan sekadar tempat hiburan. Di sana mereka belajar berpendapat, membangun jejaring, sampai menemukan komunitas yang membuat mereka merasa diterima. Karena itu, kebijakan yang hanya menekankan larangan tanpa edukasi bisa berdampak kurang sehat dalam jangka panjang.

Dr. Rose juga menekankan bahwa perlindungan yang ideal bukan hanya soal memblokir atau membatasi, tapi juga membekali. Remaja perlu literasi digital dan literasi emosional agar mampu menghadapi risiko di dunia maya dengan lebih matang.

“Pendekatan perlindungan anak di ruang digital harus komprehensif, melibatkan keluarga, sekolah, pemerintah, dan platform digital agar kesejahteraan psikologis anak tetap terjaga,” lanjutnya pada Selasa (2/3).

Isu ini makin relevan di tengah meningkatnya perhatian global terhadap kesehatan mental generasi muda. Banyak penelitian menunjukkan bahwa media sosial bisa menjadi dua sisi mata uang: bisa memperkuat koneksi sosial, tapi juga bisa memicu tekanan dan perbandingan diri yang tidak sehat.

Karena itu, pesan para pakar jelas: aturan baru memang dibutuhkan, tapi implementasinya harus seimbang. Remaja perlu perlindungan dari risiko digital, sekaligus ruang aman untuk tumbuh, berekspresi, dan merasa didengar. Regulasi yang baik bukan yang membuat mereka terkekang, melainkan yang membuat mereka lebih kuat secara mental di tengah dunia yang makin terkoneksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga