PresGoNews.com – Enam puluh tahun lalu, manusia pernah tergoda untuk membuka hati kepada komputer. Kini, godaan itu ada di saku setiap remaja.
Pada 1966, ilmuwan komputer Joseph Weizenbaum dari MIT menciptakan program sederhana bernama ELIZA. Program ini hanya mengulang kata-kata pengguna dalam bentuk pertanyaan. Namun, hal yang mengejutkan terjadi. Sekretaris Weizenbaum sendiri pernah memintanya keluar dari ruangan agar ia bisa “berbicara berdua” dengan ELIZA.
Weizenbaum pun terkejut. Sejak saat itu, ia menghabiskan sisa kariernya untuk mengingatkan manusia tentang bahaya terlalu percaya pada mesin.
Setiap generasi punya cara sendiri untuk mencurahkan isi hati. Pada 1980-an dan 1990-an, remaja menulis surat ke rubrik konsultasi majalah. Memasuki 2010-an, mereka mulai bercerita di forum anonim. Kini, mereka cukup mengetik di kolom percakapan kecerdasan artifisial (AI), mulai dari ChatGPT hingga Claude.
Baca juga: PresGo Psychology Center Bekali Siswa Prestasi Global Hadapi Masa Pubertas melalui “Level Up: Me!”
Di Indonesia, belum ada penelitian berskala nasional yang mengungkap berapa banyak remaja yang curhat kepada AI. Namun, satu hal sudah jelas: kebutuhan remaja untuk didengar sangat besar. Jika remaja di Amerika Serikat mulai menjadikan AI sebagai teman curhat, bagaimana dengan remaja di Indonesia?
Survei nasional I-NAMHS 2022 menemukan bahwa 34,9% remaja berusia 10–17 tahun, atau sekitar 15,5 juta anak, mengalami setidaknya satu masalah kesehatan mental dalam setahun terakhir. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 2,6% yang mengakses layanan profesional, seperti psikolog atau psikiater.
Artinya, sebagian besar remaja yang sedang menghadapi kesulitan belum mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengan psikolog, konselor sekolah, atau bahkan orang dewasa lainnya. Mereka masih harus menghadapi masalah tersebut sendirian.

Di tengah kondisi tersebut, AI hadir sebagai pilihan yang terasa mudah dijangkau. Layanannya gratis, cepat, anonim, dan tersedia selama 24 jam. AI tidak memotong cerita, tidak membandingkan kita dengan orang lain, dan tidak marah. Bagi remaja yang takut dihakimi, bercerita lewat layar terasa lebih aman. Masalahnya, banyak dari mereka kemudian menganggap jawaban mesin sebagai jalan keluar terbaik.
Padahal, rasa aman tersebut belum tentu benar-benar menjamin keamanan. American Psychological Association (Asosiasi Psikologi Amerika) menegaskan bahwa bot percakapan AI belum memiliki bukti ilmiah, mekanisme keselamatan, dan pengawasan yang memadai untuk menggantikan tenaga profesional, seperti psikolog. Banyak layanan AI juga dirancang agar pengguna terus kembali, sehingga respons yang diberikan cenderung membenarkan pengguna. Pola ini mirip dengan ruang gema di media sosial, yaitu lingkungan digital tempat seseorang lebih sering menemukan informasi dan pendapat yang menguatkan keyakinannya sendiri, tanpa banyak terpapar sudut pandang berbeda.
Seorang remaja dalam sebuah liputan media di Amerika Serikat menggambarkan hal ini dengan jujur melalui pernyataan, “Robot ini tidak tahu apa pun tentang saya.” AI tidak mengenal riwayat keluarga, dinamika pertemanan, ataupun tanda bahaya yang mungkin hanya bisa dikenali oleh orang-orang terdekat.
Menurut para ahli, masalah utama muncul ketika AI menjadi satu-satunya tempat untuk bercerita. AI boleh menjadi pintu pertama bagi remaja untuk mengungkapkan perasaan. Namun, AI bisa menjadi berbahaya jika tidak ada langkah lanjutan, seperti kehadiran orang dewasa yang aman, sekolah yang tanggap, dan layanan profesional yang mudah dijangkau.

Ada tiga hal yang bisa mulai dilakukan oleh Ayah Bunda dan Bapak Ibu Guru untuk membantu anak merasa nyaman bercerita.
Baca juga: Idul Fitri dan Self-Reflection pada Remaja: Membangun Kesadaran Diri Setelah Ramadhan
Di Prestasi Global, PresGo Psychology Center hadir sebagai ruang aman bagi Ananda sekaligus menjadi teman diskusi bagi Ayah Bunda. Selain itu, kami rutin menyelenggarakan Parent Workshop, sebuah kegiatan yang membantu Ayah Bunda menghadapi berbagai tantangan pengasuhan dengan membekali mereka beragam keterampilan dalam mendampingi anak.
Parent Workshop terbaru mengangkat tema “Parenting Starts Within”, Understanding Myself While Guiding My Child. Kegiatan ini menghadirkan Nina Zainab Mahdi, C.Ht., seorang hipnoterapis senior sekaligus pegiat pendidikan.
Melalui kegiatan ini, Ayah Bunda akan diajak untuk lebih mengenali dan memahami diri sendiri sebagai orang tua. Selain itu, Ayah Bunda juga akan belajar memulihkan diri dari rasa lelah, kewalahan, hingga emosi yang selama ini terpendam.
Enam puluh tahun lalu, Weizenbaum sudah merasa khawatir. Kini, pertanyaan yang sama kembali hadir untuk kita renungkan: jika anak-anak lebih nyaman bercerita kepada mesin, apa yang sebenarnya mulai hilang dari hubungan kita sebagai manusia?
Jangan sampai anak-anak merasa semakin jauh dari orang-orang di sekitarnya. Kita bisa memulainya dengan menjadi orang dewasa yang lebih baik, hadir untuk mendengarkan, memahami perasaan mereka, dan menciptakan ruang aman agar mereka tidak merasa harus menghadapi semuanya sendirian.
A lifelong learner. Running, exploring, and iterating everyday. Write and documenting my journey to become more mindful and active in life.